HUMANISME DAN RENAISSANCE
A.
Latar
belakang
Periodesasi
filsafat barat dibagi menjadi lima periode : [1]pertama; Zaman filsafat yunani kuno(600 sm-400 sm).
Zaman ini meliputi filsafat pra Socrates di yunani. Tokoh-tokohnya dikenal
dengan nama filsuf pertama atau filsuf alam. Kedua; Zaman keemasan filsafat yunani, pada masa ini
obyek pembahasanya bukan lagi alam tetapi manusia sebagaimana yang dikatakan
oleh prothagoras” manusia adalah ukuran segala-galanya. Namun hal ini ditentang oleh sokrates dengan
mengatakan “ yang benar dan yang baik harus dipandang sebagai nilai-nilai
objektif yang di junjung tinggi oleh semua orang. Kemudian pemikiran Socrates dilanjutkan
muridnya plato yang mempunyai filsafat” realitas seluruhnya terbagi atas dua
dunia yang hanya terbuka bagi panca indra dan dunia yang hanya terbuka bagi
rasio kita. Yaitu jasmani dan ide. Pendapat Plato dikritik oleh aristoteles
dengan mengatakan “ yang ada itu adalah manusia –manusia yang konkret. Ide
manusia tidak terdapat dalam kenyataan, teori aristoteles yang terkenal adalah
tentang materi dan bentuk, keduanya merupakan
prinsip-prinsip metafisis, materi adalah prinsip yang tidak ditentukan,
sedangkan bentuk adalah prinsip yang menentukan. Teori ini disebut dengan teori
hylemorfis.
Ketiga;
masa helinistis dan romawi, pada masa ini muncul stoisime yang
mengatakan jagat raya ditentukan oleh kuasa-kuasa yang disebut logos. Oleh
karena itu segala kejadian berlangsung menurut ketetapan yang tidak dapat
dihindari, epikurisme yang mengatakan segala sesuatu terdiri atas
atom-atom yang senantiasa bergerak, skeptisisme adalah bidang
teoritis manusia tidak sanggup mencapai
kebenaran. Sikap umum mereka adalah kesanksian. Neo Platoisme suatu
paham yang menghidupkan kembali filsafat Plato.
Keempat; zaman abad pertengahan. Pada zaman ini mengalami 2 periode
yaitu periode petristik ( tahap permulaan Kristen, kemudian tahap
agustinus), dan periode skolastik( periode skolastik awal abad
9-12, periode puncak perkembangan skolastik abad 13, periode skolastik
ahir abad 14-15. Pada abad pertengahan, hegemoni antara akal dan iman
benar-benar tidak seimbang. Pada abad ini akal kalah total dan iman menang
mutlak.
Kelima;
zaman modern, keenam; zaman masa kini
Pada kesempatan
ini kami akan membahas sedikit tentang periodesasi filsafat yunani pada abad
zaman modern yang meliputi:
1.
Humanisme islam dan barat
2.
Renaissance eropa; gerakan ilmu dan kematian filsafat
3.
Kelahiran
awal filsafat modern
Tujuan dari pembahasan ini adalah :
1.
Untuk
mengetahui humanisme islam dan barat
2.
Untuk
mengetahui renaissance eropa; gerakan ilmu dan kematian filsafat
3.
Kelahiran
awal filsafat modern
B.
Pembahasan
1.
Humanisme didunia islam dan barat
Humanisme berasal dari kata humanitas yang berarti pendidikan
manusia. Dalam bahasa yunani disebut paidei. Kata popular pada masa
Cicero dan varro. Adapun humanism pada abad pertengahan abad 14M adalah
gerakan filsafat yang timbul di italia dan kemudian berkembang keseluruh eropa.
Humanism menegaskan bahwa menusia adalah ukuran segala sesuatu.
Kebesaran manusia harus dihidupkan kembali, yang selama ini terkubur pada abad
pertengahan ditinggalkan. Kebebasan manusia adalah salah satu tema pokok hummanism.
Pico salah seorang tokoh humanism berkata,” manusia dianugerahi
kebebasan memilih oleh tuhan dan menjadikanya pusat perhatian dunia. Dengan
posisi itu dia bebas memandang dan memilih yang terbaik.[2]
Humanism pada awalnya tidaklah anti agama. Humanism ingin mengurangi
peranan institusi gereja dan kerajaan yang begitu besar sehingga manusia
sebagai mahluk tuhan kehilangan kebebasanya.[3]
Humanism pada awal renaissance berbeda dengan humanism abad
ke-19 dan 20, kendati dalam beberapa hal ada kesamaanya. Humanism waktu
itu bertujuan untuk meningkatkan
perkembangan yang harmonis dari
sifat-sifat dan kecakapan alamiah manusia. Pada waktu itu [ara humanis tidak
menyangkal adanya zat yang maha tinggi. Hanya saja mereka berpendapat bahwa
ha;-hal yang alamiah dalam diri manusia telah memiliki nilai cukup untuk
dijadikan sasaran pengenalan manusia. Tanpa wahyupun, seseorang mampu berkarya
dengan baik dan sempurna. Setelah abad kemudian, baru muncul gerakan humanism
yang melepaskan segala hal yang
berkaitan dengan tuhan dan akhirat dan hanya menerima hidup di dunia apa
adanya.[4]
Puncak
perkembangan humanism adalah eksistensialisme
di jerman pada abad ke- 19. Eksistensialisme mengakui bahwa eksistensi mendahului esensi (hakikat).
Sebagaimana marxisme, eksistensialisme
mengutamakan manusia sebagai
individu yang bebas dan menghilangkan peranan manusia dari tuhan
dalam kehidupanya, kendati kedua
paham tersebut mengutamkan manusia, marxisme mmengutamakan perbaikan
manusia dari segi social, [5]
Sementara, humanism (Kebebasan) dalam Islam digambarkan Islam dalam terminologi Ikhtiyar.
Sebagimana digambarkan oleh sebuah
Organisasi keIslaman Mahasiswa (HMI) di Indonesia yang bergerak dalam core pemikiran Islam modern .
Pusat Kemanusian terletak
pada diri pribadi manusia dan
kebebasan pribadi adalah hak asasinya yang pertama. Tidak sesuatu yang lebih
berharga daripada kemerdekaannya itu. Kebebasan dalam arti kerja sukarela
(pilihan) yang tanpa paksaan yang
didorong kemauan yang murni, kebebasan dalam pengertian merdeka memilih
sehingga pekerjaan itu dengan benar-benar dilakukakan sejalan hati nurani. Hal
ini bersumber daari keikhlasan. Keikhlasan merupakan pernyataan kreatif kehidupan manusia yang
berasal dari perkembangan tak terkekang dari kemauan baiknya. Keikhlasan adalah
gambaran terpenting dari gambaran manusia sejati. Individualitas adalah
pernyataan asasi yang pertama dan terakhir dari kemanusiaan, serta letak
kebenarannya dari nilai kemanusia itu sendiri.[6]
2.
Renaissance eropa; gerakan ilmu dan kematian filsafat
Renaissance berasal dari bahas latin re+ nasci yang artinya lahir kembali (rebirth).
Seringkali istilah ini digunakan para sejarahwan untuk menunjuk berbagai
periode kebangkitan intelektual,
khususnya yang terjadi di eropa, dan lebih khusus lagi di italia, sepanjang
abad ke 15 dan abad 16.[7]
Pada awalnya istilah ini digunakan oleh Michelet yang merupakan sejarahwan yang
terkenal kemudian dikembangkan oleh J. Burckhardi (1860) untuk konsep sejarah
yang menunjuk kepada periode yang bersifat individualisme, kebangkitan kebudayaan antik, penemuan dunia dan manusia,
sebagai periode yang dilawankan dengan periode abad pertengahan. Karya filsafat
pada abad ini sering disebut filsafat renaissance.
Abad
pertengahan merupakan abad dimana alam pikiran dikungkung oleh gereja. Dalam
keadaan seperti itu kebebasan pemikiran amat terbatas, perkembangan sains dan filsafat sulit terjadi, bahkan bisa
dikatakan manusia tidak mampu menemukan dirinya sendiri.[8]
Akal
pada abad pertengahan ini benar-benar kalah. Hal ini kelihatan sangat jelas
pada filsafat Plotinus, Augustinus, Anselmus. Pemasungan akal oleh Plotinus tampak jelas dalam pernyataanya
“ tuhan (mewakili metafisika) bukan untuk dipahami, melainkan untuk dirasakan.
Oleh karena itu, tujuan filsafat dan tujuan hidup secara umum adalah bersatu dengan tuhan. Jadi, dalam
hidup ini rasa itulah satu-satunya yang dituntun oleh kitab suci, pedoman
manusia. Filsafat, rasional dan sains tidak penting untuk dipelajari”.
Simplicius, salah seorang pengikut Plotinus, telah menutup ruang gerak filsafat
rasional dan memusuhinya. Pada tahun415 hypatia, seorang terpelajar, ahli dalam
filsafat aristoteles dibunuh. Tahun 529 kaisar justinianus mengeluarkan
undang-undang yang melarang ajaran filsafat apapun di Athena.[9]
Agustinus
mengganti akal dengan iman; potensi manusia yang diakui pada zaman yunani
diganti dengan kuasa allah. Ia mengatakan bahwa kita tidak perlu dipimpin oleh
pendapat bahwa kebenaran itu relative. Kebenaran itu mutlak yaitu ajaran agama.[10]
Secara
historis renaissance adalah suatu gerakan yang meliputi suatu zaman
dimana orang merasa dirinya sebagai telah dilahirkan kembali ke keadaban. Di dalam kelahiran
kembali itu orang kembali pada sumber-sumber yang murni bagi pengetahuan dan
keindahan. Dengan demikian orang memiliki norma-norma yang senantiasa berlaku
begitu hikmat dan kesenian manusia. Bila mana perpindahan dari keadaban abad
pertengahan menuju ke keadaban renaissance itu terjadi, tidak dapat dipastikan.[11]pada
zaman ini berbagai gerakan bersatu untuk menentang pola pemikiran abad
pertengahan yang dogmatis, sehingga melahirkan sesuatu perubahan revolusioner
dalam pemikiran manusia dan membentuk suatu pola pemikiran baru dalam
berfilsafat.[12]
Beberapa
seni disebut liberal dan diajarkan disekolah-sekolah latin dan
universitas-universitas. Seni itu ialah bahasa, logika, matematika, dan kaum
terpelajar atau para pejabat mempelajari kedokteran dan hokum.[13]konsep
pengetahuan yang berlaku dimasa itu masih berbeda secara radikal dengan konsep masa
kini. Pada masa itu umumnya diterima bahwa pernah ada suatu zaman keemasan ketika semua hal diketahui (ketika
semua manusia masih berdiam ditaman eden dan barangkali di zaman kuno atau
zamanya para bijaksana). Penemuan kembali kebenaran dipandang bukan sekedar
soal memahami fakta-fakta; sebab terjadinya kebenaran pertama kali dan leyap
pada masa berikutnya merupakan peristiwa-peristiwa yang bermakna religious.
Karena dunia inderawi sangat dipengaruhi oleh agen-agen ilahi, demonis dan
magis, maka untuk menyingkap rahasianya bukan tugas sekuler semata-mata. Karena
bagian berakar dalam pertentanganya dengan pandangan dunia(word view)
ini maka sulit membayangkan kemungkinan adanya sudut pandang(point of view)
ilmiah di dalamnya. Akan tetapi jika para sejarahwan masih sepakat dengan
anggapan ini maka ia masih terpenjara dalam kategori-kategori zamanya masing-masing.[14]
Ciri-ciri
filsafat renaissance ada pada filsafat modern yaitu menghidupkan kembali
rasionalisme yunani (renaissance, individualism, humanism, lepas
dari pengaruh agama dan lain-lainya.[15]
Dalam
menjelaskan zaman renaissaince drs. Surajiyo dalam buku lainya yang
berjudul “filsafat ilmu dan perkembangaya di Indonesia” menuliskan renaissance
ialah zaman peralihan ketika kebudayaan abad pertengahan mulai berubah menjadi
suatu kebudayaan modern. Manusia pada zaman ini adalah manusia yang merindukan
pemikiran yang bebas. Manusia ingin mencapai kemajuan atas hasil usahanya
sendiri, tidak didasarkan atas campur tangan ilahi. Penemuan ilmu pengetahuan
modern sudah mulai dirintis pada zaman renaissance. Ilmu yang berkembang pada
zaman ini adalah bidang astronomi. Tokoh-tokoh yang terkenal adalah Roger bacon,
Copernicus, Johannes keppler, Galileo galilei.[16]
Berikut
sekilas tentang pemikiran para tokoh renaissance:
a.
Roger
Bacon,
berpendapat bahwa pengalaman (empiris) menjadi
landasan utama bagi awal dan ujian akhir
bagi semua ilmu pengetahuan. Matematika merupakan syarat mutlak untuk mengolah semua pengetahuan.
b.
Copernicus
mengatakan
bahwa bumi dan planet semuanya mengelilingi matahari sehingga matahari menjadi
pusat (helioentrisime). Pendapat ini berlawanan dengan pendapat umum
yang berasal dari Hipparchus dan ptolomeus yang menganggap bahwa bumi sebagai
pusat alam semesta (geosentrisme)
c.
Johannes
keppler
menemukan
tiga buah hukum yang melengkapi penylidikan Brahe sebelumnya, yaitu:
1)
Gerak
benda angkasa itu ternyata bukan bergerak mengikuti lintasan circle, namun
gerak itu menikuti lintasan ellips. Orbit semua planet berbentuk ellips.
2)
Dalam
waktu yang sama, garis penghubung antara planet dan matahari selalu melintasi
bidang yang luasnya sama.
3)
Dalam
perhitungan matematika terbukti bahwa bila jarak rata-rata dua planet A dan B
dengan matahari adalah X dan Y, sedangkan waktu untuk melintasi orbit
masing-masing adalah P dan Q, maka P2 : Q2 = X3 : Y3
d.
Galileo
galilei
Membuat
sebuah teropong bintang yang terbesar pada masa itu dan mengamati beberapa
peristiwa penting angkasa secara langsung. Ia menemukan beberapa peristiwa
penting dalam bidang astronomi. Ia melihat bahwa planet venus dan markurius
menunjukkan perubahan-perubahan seperti halnya bulan, sehingga ia menyimpulkan
bahwa planet-planet tidaklah memancarkan cahaya sendiri, melainkan hanya memantulkan
cahaya dari matahari.
3.
Kelahiran
awal filsafat modern
Zaman
modern dimulai dengan masa renaissance yang berarti kelahiran kembali, yaitu
usaha untuk menghidupkan kembali kebudayaan klasik (yunani-romawi). Pembaharuan
terpenting yang kelihatan dalam filsafat renaissance itu antroposentrismenya.
Pusat perhatian pemikiranya tidak lagi lagi kosmos, seperti zaman kuno, atau
tuhan seperti abad pertengahan, melainkan manusia. Mulai dari zaman modern inilah manusia yang
dianggap sebagai titik focus dari kenyataan.[17]
Latar
belakang dan implikasi dari renaissance itu adalah sebagai berikut:
a.
Pudarnya
kekuasaan politik dan kekuasaan
spiritual yang mengakibatkan lahirnya cita-cita semangat pembaharuan dan
pembebasan.
b.
Berkembangnya
jiwa dan semangat individualism.
c.
Pertentangan
antara universalia dan individualia berakhir dengan kemenangan individualia.
Hal ini menimbulkan akibat-akibat sebagai berikut:[18]
1)
Warga
masyarakat tidak lagi menerima dogma/agama yang digambarkan ada tangan pada
masing-masing diri manusia.
2)
Pandangan
bercorak subtansialistis dan metode pendekatan ilmiah secara deduktif,
dikalahkan oleh metode-metode induktif dan empiris untuk menemukan
kebenaran-kebenaran individual.
d.
Timbulnya
rasa kebanggaan tehadap harta dan derajat manusia. Gejala ini menunjukkan
manifestasinya kepada kepercayaan diri bahwa manusia dengan kebebasan, nillai
individualis yang optimal, kemampuan ilmiahnya merasa mampu untuk menguasai
alam semesta ini.
Zaman modern juga ditandai dengan berbagai penemuan dalam bidang
ilmiah. Perkembangan ilmu pengetahuan pada zaman modern sesungguhnya sudah dirintis sejak
zaman renaissance. Seperti re
ne Descartes, tokoh yang terkenal sebagai bapak filsafat modern.
Rene Descartes juga seorang ahli ilmu pasti. Penemuanya dalam ilmu pasti adalah
system koordinat yang terdiri atas dua garis lurus X dan Y dalam bidang datar. Isaac newton dengan temuanya teori
gravitasi. Charles Darwin dengan teorinya struggle for lifer(perjuangan untuk
hidup). JJ Thomson dengan temuanya electron. Berikut penjelasan sekilas dari
filsuf-filsuf tersebut:[19]
a.
Rene
Descartes
Menemukan
dalam ilmu pasti ialah system koordinat yang terdiri atas dua garis lurus X dan
Y dalam bidang datar. Garis X letaknya horizontal dan disebut axis atau sumbu
X, sedangkan garis Y letaknya tegak lurus pada sumbu X. karena system tersebut
didasarkan pada dua garis lurus yang berpotongan tegak lurus, maka system
koordinat itu dinamakan orthogonal coordinate system. Kedudukan tiap
titik dalam bidang tersebut diproyeksikan dengan garis-garis lurus pada sumbu X
dan sumbu Y. dengan demikian kedudukan tiap titik potong kedua sumbu menyusuri
sumbu-sumbu tadi. Pentingnya system yang dikemukakan oleh descartes ini
terletak pada hubungan yang diciptakanya
antara ilmu ukur bidang datar dengan al-jabar. Tiap titik dapat dinyatakan
serupa dengan dua koordinat Xi dan Yi. Panjang garis dapat dinyatakan serupa dengan hukum phytagoras mengenai hypothenusa.
Penemuan Descartes ini dinamakan analytic geometry.
b.
Isaac
newton
Berperan
dalam ilmu pengetahuan modern terutama penemuanya dalam tiga bidang, yatu teori
gravitasi, perhitungan calculus, dan optika:
1)
Teori
gravitasi adalah perbincangan lanjutan mengenai soal pergerakan yang telah
dirintis oleh Galileo dan keppler. Galileo mempelajari pergerakan dengan
lintasan lurus. Kepler mempelajari pergerakan dengan lintasan tertutup atau
elips. Berdasarkan perhitungan yang diajukan oleh keppler menunjukkan bahwa
tentu ada factor penyebab mengapa planet tidak mengikuti pergerakan dengan
lintasan lurus. Dugaan sementara penyebab ditimbulkan oleh matahari yang
menarik bumi atau antara matahari dengan bumi ada gaya saling tarik-menarik.
Persoalan itu menjadi obsesi newton, namun ia menghadapi berbagai kesukaran.
Perhitungan besarnya bumi dan matahari belum diketahui, dan newton belum
mengetahui bahwa pengaruh benda pada benda yang lain dapat dipandang dan hitung
dari pusat titik berat benda-benda tadi setelah kedua hal ini diketahui oleh
newton, barulah ia dapat menyusun teori gravitasi. Teori gravitasi ini dapat
menerangkan dasar dari semua lintasan planet dan bulan, pengaruh pasang
surutnya air samudera, dan peristiwa
astronomi lainya. Teori gravitasi newton ini dipergunakan oleh para ahli
berikutnya untuk membuktikan laboratorium dan penemuan planet baru dialam
semesta.
2)
Perhitungan
calculus, yaitu hubungan antara X dan Y. kalau X bertambah, maka Y akan
bertambah pula, tetapi menurut ketentuan yang tetap atau teratutr. Misalnya ada
benda bergerak, panjangnya jarak yang ditempuh tergantung dari kecepatan tiap
detik dan panjangnya waktu pergerakan. Cara perhitungan calculus ini banyak
manfaatnya untuk menghitung berbagai hubungan antara dua atau lebih hal yang
berubah, bersama dengan ketentuan yang teratur.
3)
Optika
atau mengenai cahaya; jika matahari dilewatkan sebuah prisma, maka cahaya asli
yang kelihatanya homogen menjadi terbias antara merah sampai ungu, menjadi
pelangi. Kemudian kalau pelangi itu dilewatkan sebuah prisma lainya, maka
pelangi terkumpul kembali menjadi cahaya homogen. Dengan demikian dapat
dibuktikan bahwa cahaya itu sesungguhnya terdiri atas komponen yang terbentang
antara merah dan ungu.
c.
Charles
Darwin
dikenal
sebagai penganut teori evolusi yang fanatic. Darwin menyatakan bahwa
perkembangan yang terjadi pada mahluk di
bumi terjadi karena seleksi alam. Teorinya yang terkenal adalah struggle for
life(perjuangan untuk hidup). Darwin berpendapat bahwa perjuangan untuk hidup berlaku pada setiap kumpulan
mahluk hidup yang sejenis, karena meskipun sejenis namun tetap menampilkan
kelainan-kelainan kecil. Mahluk hidup yang berkelainan kecil itu berbeda-beda
daya menyesuaikan dirinya terhadap lingkungan. Mahluk hidup yang dapat
menyesuaikan diri akan memiliki peluang yang lebih besar untuk bertahan hidup
lebih lama, sedangkan yang kurang dapat menyesuaikan diri akan tersisihkan
karena kalah bersaing. Oleh karena itu yang dapat bertahan adalah paliaanag
unggul (survival of the fittest)..[20]
Zaman modern ditandai dengan munculnya rasionalisme rene descartes(1596-1650),
B. Spinoza(1632-1677), dan G.libniz(1646-1716). Mereka menekankan pentingnya
rasio atau akal budi manusia.[21]
Pada abad ke-18 terkenal dengan zaman pencerahan, (einlighment,
aufklarung) dengan munculnya tokoh-tokoh empirisme. Istilah empirisme memilih
pengalaman sebagai sumber utama pengalaman, baik pengalaman lahiriah yang menyangkut dunia maupun pengalaman
batiniah yang menyangkut pribadi manusia saja.[22]
Tokoh-tokoh empirisme antara lain, di inggris john
locke(1632-1704), George Berkeley(1684-1753), dan david hume(1711-1776), di
perancis jean Jacques rousseau(1712-1778), dan dijerman Immanuel kant(1724-1804),
selain itu, ditandai pula munculnya aliran idealism seperti
J.fichti(1762-1814), f. schelling (1775-1854), dan G.W. Hegel(1770-1831).[23]
Dalam filsfat empirisme David hume filsafat barat yng mengembangkan
filsafat empirisme locked an barkley mengatakan manusia tidak membawa
pengetahuan bawaan dalam hidupnya.
Sumber pengetahuan adalah pengamatan .
pengamatan memberikan dua hal, yaitu kesan-kesan(impression) dan
pengertian-pengertian atau ide-ide(idea). Yang dimaksud kesan-kesan adalah
pengamatan langsung yang diterima dari pengalaman, baik pengamatan lahiriah
maupun batiniah, yang menampakkan diri dengan jelas, hidup dan kuat seperti,
merasakan tangan terbakar . yang dimaksud dengan ide adalah gambaran tentang
pengamatan yang redup, samar-samar, yang dihasilkan dengan merenungkan kembali
atau merefleksikan dalam kesadaran kesan-kesan yang diterima dari pengalaman. [24]
David hume menegaskan bahwa pengalaman lebih member keyakinan
disbanding kesimpulan logika atau kemestian sebab akibat yang hanya memberikan
hubungan yang saling berhubungan.[25]
C.
Penutup
Kesimpulan
1.
Humanism
barat adalah suatu gerakan filsafat yang mengusung tema
sebuah kebebasan Yang bertujuan untuk mengurangi peranan institusi
gereja dan kerajaan serta meningkatkan perkembangan yang harmonis dari
sifat-sifat dan kecakapan alamiah manusia. Dalam islam humanism lebih dikenal
dengan istilah ikhtiar
2.
Renaissance
merupakan istilah yang digunakan untuk konsep sejarah yang menunjuk kepada
periode yang bersifat individualisme, kebangkitan kebudayaan antik, penemuan dunia dan manusia,
sebagai periode yang dilawankan dengan periode abad pertengahan dimana alam
pikiran dikungkung oleh gereja. Dalam keadaan seperti itu kebebasan pemikiran
amat terbatas, perkembangan sains dan
filsafat sulit terjadi, bahkan bisa dikatakan manusia tidak mampu menemukan
dirinya sendiri. Ciri-ciri filsafat renaissance ada pada filsafat modern yaitu
menghidupkan kembali rasionalisme yunani(renaissance, individualism, humanism,
lepas dari pengaruh agama dan lain-lainya.
3.
Zaman
modern dimulai dengan masa renaissance yang berarti kelahiran kembali, yaitu
usaha untuk menghidupkan kembali kebudayaan klasik(yunani-romawi). Pudarnya
kekuasaan politik dan kekuasaan
spiritual yang mengakibatkan lahirnya cita-cita semangat pembaharuan dan
pembebasan. Sedangkan implikasi dari renaissance adalah:
a.
Berkembangnya
jiwa dan semangat individualism.
b.
Pertentangan
antara universalia dan individualia berakhir dengan kemenangan individualia.
Hal ini menimbulkan akibat-akibat sebagai berikut
1)
Warga
masyarakat tidak lagi menerima dogma/agama yang digambarkan ada tangan pada
masing-masing diri manusia.
2)
Pandangan
bercorak subtansialistis dan metode pendekatan ilmiah secara deduktif,
dikalahkan oleh metode-metode induktif dan empiris untuk menemukan
kebenaran-kebenaran individual.
3)
Timbulnya
rasa kebanggaan tehadap harta dan derajat manusia. Gejala ini menunjukkan
manifestasinya kepada kepercayaan diri bahwa manusia dengan kebebasan, nillai
individualis yang optimal, kemampuan ilmiahnya merasa mampu untuk menguasai
alam semesta ini.
Demikian penjelasan makalah yang dapat saya sampaikan. Semoga bisa
menambahkan wawasan ilmu pengetahuan bagi kita semua amin…
[1]
Surajiyo, ilmu filsafat suatu pengantar,
(Jakarta, pt bumi aksara: 2005), hal.154
[2]
Amsal bachtiar, filsafat agama,(Jakarta: PT Rajagrafindo persada, 2009), hal146
[3]
ibid
[4]
Ibid, hal 146
[5]
Ibid, hal 147
[6]
www.
[7]
Ahmad tafsir, filsafat umum, akal dan hati sejak thales sampai capra,( bandung:
PT
. remaja rosdakarya, 2009), Cet. 17, hal.124
[8]Ahmad
tafsir Ibid.
[9]Ahmad
tafsir Ibid, hal.113
[10]Ahmad
tafsir Ibid.
[11]
Harun hadiwijayano, sari sejarah filsafat barat, ( Yogyakarta: kanisius, 1980),
hal. 11
[12]
Rizal mustansyir dan misnal munir, filsafat ilmu( Yogyakarta: pustaka pelajar,
2009), cet.IX, hal.69
[13]
Jerome R. Ravertz, filsafat ilmu,( Yogyakarta, pustaka pelajar, 2009), cet. Iv,
hal. 28
[14]
Ibid
[15] Ahmad
tafsir, op.cit, hal 127
[16]
Surajiyo, filsafat ilmu dan
perkembanganya di Indonesia suat pengantar, (Jakarta, pt bumi aksara, 2010),
cet. 5, hal.86-87
[17]
Surajiyo, lock.cit, hal157
[18]
Ibid, hal. 158
[19]
Lock.cit, filsafat ilmu dan perkembanganya di Indonesia suatu pengantar, hal.87
[20] Lock.cit,
filsafat ilmu dan perkembanganya di Indonesia suatu pengantar, 87-89
[21] Lock.cit,
filsafat ilmu dan perkembanganya di Indonesia suatu pengantar,
[22] Lock.cit,
filsafat ilmu dan perkembanganya di Indonesia suatu pengantar,
[23] Lock.cit,
filsafat ilmu dan perkembanganya di Indonesia suatu pengantar,
[24]
Amsal bakhtiar, ibid, hal108
[25]
ibid
Tidak ada komentar:
Posting Komentar