Rabu, 23 Desember 2015

HUMANISME DAN RENAISSANCE



HUMANISME DAN RENAISSANCE
A.    Latar belakang
Periodesasi filsafat barat dibagi menjadi lima periode : [1]pertama;  Zaman filsafat yunani kuno(600 sm-400 sm). Zaman ini meliputi filsafat pra Socrates di yunani. Tokoh-tokohnya dikenal dengan nama filsuf pertama atau filsuf alam. Kedua;  Zaman keemasan filsafat yunani, pada masa ini obyek pembahasanya bukan lagi alam tetapi manusia sebagaimana yang dikatakan oleh prothagoras” manusia adalah ukuran segala-galanya.  Namun hal ini ditentang oleh sokrates dengan mengatakan “ yang benar dan yang baik harus dipandang sebagai nilai-nilai objektif yang di junjung tinggi oleh semua orang.  Kemudian pemikiran Socrates dilanjutkan muridnya plato yang mempunyai filsafat” realitas seluruhnya terbagi atas dua dunia yang hanya terbuka bagi panca indra dan dunia yang hanya terbuka bagi rasio kita. Yaitu jasmani dan ide. Pendapat Plato dikritik oleh aristoteles dengan mengatakan “ yang ada itu adalah manusia –manusia yang konkret. Ide manusia tidak terdapat dalam kenyataan, teori aristoteles yang terkenal adalah tentang materi dan bentuk, keduanya merupakan  prinsip-prinsip metafisis, materi adalah prinsip yang tidak ditentukan, sedangkan bentuk adalah prinsip yang menentukan. Teori ini disebut dengan teori hylemorfis.
Ketiga; masa helinistis dan romawi, pada masa ini muncul stoisime yang mengatakan jagat raya ditentukan oleh kuasa-kuasa yang disebut logos. Oleh karena itu segala kejadian berlangsung menurut ketetapan yang tidak dapat dihindari, epikurisme yang mengatakan segala sesuatu terdiri atas atom-atom yang senantiasa bergerak, skeptisisme adalah bidang teoritis  manusia tidak sanggup mencapai kebenaran. Sikap umum mereka adalah kesanksian. Neo Platoisme suatu paham yang menghidupkan kembali filsafat Plato.
Keempat; zaman abad pertengahan. Pada zaman ini mengalami 2 periode yaitu periode petristik ( tahap permulaan Kristen, kemudian tahap agustinus), dan periode skolastik( periode skolastik awal abad 9-12, periode puncak perkembangan skolastik abad 13, periode skolastik ahir abad 14-15. Pada abad pertengahan, hegemoni antara akal dan iman benar-benar tidak seimbang. Pada abad ini akal kalah total dan iman menang mutlak.
Kelima; zaman modern, keenam; zaman masa kini
Pada kesempatan ini kami akan membahas sedikit tentang periodesasi filsafat yunani pada abad zaman modern yang meliputi:
1.      Humanisme islam dan barat
2.      Renaissance eropa; gerakan ilmu dan kematian filsafat
3.      Kelahiran awal filsafat modern
Tujuan dari pembahasan ini adalah :
1.      Untuk mengetahui humanisme islam dan barat
2.      Untuk mengetahui renaissance eropa; gerakan ilmu dan kematian filsafat
3.      Kelahiran awal filsafat modern
B.     Pembahasan
1.    Humanisme didunia islam dan barat
Humanisme berasal dari kata humanitas yang berarti pendidikan manusia. Dalam bahasa yunani disebut paidei. Kata popular pada masa Cicero dan varro. Adapun humanism pada abad pertengahan abad 14M adalah gerakan filsafat yang timbul di italia dan kemudian berkembang keseluruh eropa. Humanism menegaskan bahwa menusia adalah ukuran segala sesuatu. Kebesaran manusia harus dihidupkan kembali, yang selama ini terkubur pada abad pertengahan ditinggalkan. Kebebasan manusia adalah salah satu tema pokok hummanism. Pico salah seorang tokoh humanism berkata,” manusia dianugerahi kebebasan memilih oleh tuhan dan menjadikanya pusat perhatian dunia. Dengan posisi itu dia bebas memandang dan memilih yang terbaik.[2]
Humanism pada awalnya tidaklah anti agama. Humanism ingin mengurangi peranan institusi gereja dan kerajaan yang begitu besar sehingga manusia sebagai mahluk tuhan kehilangan kebebasanya.[3]
Humanism pada awal renaissance berbeda dengan humanism abad ke-19 dan 20, kendati dalam beberapa hal ada kesamaanya. Humanism waktu itu bertujuan untuk meningkatkan  perkembangan  yang harmonis dari sifat-sifat dan kecakapan alamiah manusia. Pada waktu itu [ara humanis tidak menyangkal adanya zat yang maha tinggi. Hanya saja mereka berpendapat bahwa ha;-hal yang alamiah dalam diri manusia telah memiliki nilai cukup untuk dijadikan sasaran pengenalan manusia. Tanpa wahyupun, seseorang mampu berkarya dengan baik dan sempurna. Setelah abad kemudian, baru muncul gerakan humanism yang melepaskan  segala hal yang berkaitan dengan tuhan dan akhirat dan hanya menerima hidup di dunia apa adanya.[4]
Puncak perkembangan humanism adalah  eksistensialisme di jerman pada abad ke- 19. Eksistensialisme mengakui bahwa  eksistensi mendahului esensi (hakikat). Sebagaimana marxisme, eksistensialisme  mengutamakan manusia  sebagai individu yang bebas dan menghilangkan peranan manusia  dari tuhan  dalam  kehidupanya, kendati kedua paham tersebut mengutamkan manusia, marxisme mmengutamakan perbaikan manusia dari segi social, [5]
Sementara, humanism (Kebebasan) dalam Islam digambarkan Islam dalam terminologi Ikhtiyar. Sebagimana digambarkan  oleh sebuah Organisasi keIslaman Mahasiswa (HMI) di Indonesia yang bergerak dalam core  pemikiran Islam modern .
Pusat Kemanusian terletak  pada  diri pribadi manusia dan kebebasan pribadi adalah hak asasinya yang pertama. Tidak sesuatu yang lebih berharga daripada kemerdekaannya itu. Kebebasan dalam arti kerja sukarela (pilihan) yang tanpa  paksaan yang didorong kemauan yang murni, kebebasan dalam pengertian merdeka memilih sehingga pekerjaan itu dengan benar-benar dilakukakan sejalan hati nurani. Hal ini bersumber daari keikhlasan. Keikhlasan merupakan  pernyataan kreatif kehidupan manusia yang berasal dari perkembangan tak terkekang dari kemauan baiknya. Keikhlasan adalah gambaran terpenting dari gambaran manusia sejati. Individualitas adalah pernyataan asasi yang pertama dan terakhir dari kemanusiaan, serta letak kebenarannya dari nilai kemanusia itu sendiri.[6]
2.    Renaissance eropa; gerakan ilmu dan kematian filsafat
Renaissance berasal dari bahas latin re+ nasci  yang artinya lahir kembali (rebirth). Seringkali istilah ini digunakan para sejarahwan untuk menunjuk berbagai periode  kebangkitan intelektual, khususnya yang terjadi di eropa, dan lebih khusus lagi di italia, sepanjang abad ke 15 dan abad 16.[7] Pada awalnya istilah ini digunakan oleh Michelet yang merupakan sejarahwan yang terkenal kemudian dikembangkan oleh J. Burckhardi (1860) untuk konsep sejarah yang menunjuk kepada periode yang bersifat individualisme, kebangkitan  kebudayaan antik, penemuan dunia dan manusia, sebagai periode yang dilawankan dengan periode abad pertengahan. Karya filsafat pada abad ini sering disebut filsafat renaissance.
Abad pertengahan merupakan abad dimana alam pikiran dikungkung oleh gereja. Dalam keadaan seperti itu kebebasan pemikiran amat terbatas, perkembangan  sains dan filsafat sulit terjadi, bahkan bisa dikatakan manusia tidak mampu menemukan dirinya sendiri.[8]
Akal pada abad pertengahan ini benar-benar kalah. Hal ini kelihatan sangat jelas pada filsafat Plotinus, Augustinus, Anselmus. Pemasungan akal  oleh Plotinus tampak jelas dalam pernyataanya “ tuhan (mewakili metafisika) bukan untuk dipahami, melainkan untuk dirasakan. Oleh karena itu, tujuan filsafat dan tujuan hidup secara  umum adalah bersatu dengan tuhan. Jadi, dalam hidup ini rasa itulah satu-satunya yang dituntun oleh kitab suci, pedoman manusia. Filsafat, rasional dan sains tidak penting untuk dipelajari”. Simplicius, salah seorang pengikut Plotinus, telah menutup ruang gerak filsafat rasional dan memusuhinya. Pada tahun415 hypatia, seorang terpelajar, ahli dalam filsafat aristoteles dibunuh. Tahun 529 kaisar justinianus mengeluarkan undang-undang yang melarang ajaran filsafat apapun di Athena.[9]
Agustinus mengganti akal dengan iman; potensi manusia yang diakui pada zaman yunani diganti dengan kuasa allah. Ia mengatakan bahwa kita tidak perlu dipimpin oleh pendapat bahwa kebenaran itu relative. Kebenaran itu mutlak yaitu ajaran agama.[10]
Secara historis renaissance adalah suatu gerakan yang meliputi suatu zaman dimana orang merasa dirinya sebagai telah dilahirkan  kembali ke keadaban. Di dalam kelahiran kembali itu orang kembali pada sumber-sumber yang murni bagi pengetahuan dan keindahan. Dengan demikian orang memiliki norma-norma yang senantiasa berlaku begitu hikmat dan kesenian manusia. Bila mana perpindahan dari keadaban abad pertengahan menuju ke keadaban renaissance itu terjadi, tidak dapat dipastikan.[11]pada zaman ini berbagai gerakan bersatu untuk menentang pola pemikiran abad pertengahan yang dogmatis, sehingga melahirkan sesuatu perubahan revolusioner dalam pemikiran manusia dan membentuk suatu pola pemikiran baru dalam berfilsafat.[12]
Beberapa seni disebut liberal dan diajarkan disekolah-sekolah latin dan universitas-universitas. Seni itu ialah  bahasa, logika, matematika, dan kaum terpelajar atau para pejabat mempelajari kedokteran dan hokum.[13]konsep pengetahuan yang berlaku dimasa itu masih berbeda secara radikal dengan konsep masa kini. Pada masa itu umumnya diterima bahwa pernah ada suatu zaman  keemasan ketika semua hal diketahui (ketika semua manusia masih berdiam ditaman eden dan barangkali di zaman kuno atau zamanya para bijaksana). Penemuan kembali kebenaran dipandang bukan sekedar soal memahami fakta-fakta; sebab terjadinya kebenaran pertama kali dan leyap pada masa berikutnya merupakan peristiwa-peristiwa yang bermakna religious. Karena dunia inderawi sangat dipengaruhi oleh agen-agen ilahi, demonis dan magis, maka untuk menyingkap rahasianya bukan tugas sekuler semata-mata. Karena bagian berakar dalam pertentanganya dengan pandangan dunia(word view) ini maka sulit membayangkan kemungkinan adanya sudut pandang(point of view) ilmiah di dalamnya. Akan tetapi jika para sejarahwan masih sepakat dengan anggapan ini maka ia masih terpenjara dalam kategori-kategori zamanya masing-masing.[14]
Ciri-ciri filsafat renaissance ada pada filsafat modern yaitu menghidupkan kembali rasionalisme yunani (renaissance, individualism, humanism, lepas dari pengaruh agama dan lain-lainya.[15]
Dalam menjelaskan zaman renaissaince drs. Surajiyo dalam buku lainya yang berjudul “filsafat ilmu dan perkembangaya di Indonesia” menuliskan renaissance ialah zaman peralihan ketika kebudayaan abad pertengahan mulai berubah menjadi suatu kebudayaan modern. Manusia pada zaman ini adalah manusia yang merindukan pemikiran yang bebas. Manusia ingin mencapai kemajuan atas hasil usahanya sendiri, tidak didasarkan atas campur tangan ilahi. Penemuan ilmu pengetahuan modern sudah mulai dirintis pada zaman renaissance. Ilmu yang berkembang pada zaman ini adalah bidang astronomi. Tokoh-tokoh yang terkenal adalah Roger bacon, Copernicus, Johannes keppler, Galileo galilei.[16]
Berikut sekilas tentang pemikiran para tokoh renaissance:
a.       Roger Bacon,
 berpendapat bahwa pengalaman (empiris) menjadi landasan utama bagi awal dan ujian  akhir bagi semua ilmu pengetahuan. Matematika merupakan syarat  mutlak untuk mengolah semua pengetahuan.
b.      Copernicus
mengatakan bahwa bumi dan planet semuanya mengelilingi matahari sehingga matahari menjadi pusat (helioentrisime). Pendapat ini berlawanan dengan pendapat umum yang berasal dari Hipparchus dan ptolomeus yang menganggap bahwa bumi sebagai pusat alam semesta (geosentrisme)
c.       Johannes keppler
menemukan tiga buah hukum yang melengkapi penylidikan Brahe sebelumnya, yaitu:
1)      Gerak benda angkasa itu ternyata bukan bergerak mengikuti lintasan circle, namun gerak itu menikuti lintasan ellips. Orbit semua planet berbentuk ellips.
2)      Dalam waktu yang sama, garis penghubung antara planet dan matahari selalu melintasi bidang yang luasnya sama.
3)      Dalam perhitungan matematika terbukti bahwa bila jarak rata-rata dua planet A dan B dengan matahari adalah X dan Y, sedangkan waktu untuk melintasi orbit masing-masing adalah P dan Q, maka P2 : Q2 = X3 : Y3
d.      Galileo galilei
Membuat sebuah teropong bintang yang terbesar pada masa itu dan mengamati beberapa peristiwa penting angkasa secara langsung. Ia menemukan beberapa peristiwa penting dalam bidang astronomi. Ia melihat bahwa planet venus dan markurius menunjukkan perubahan-perubahan seperti halnya bulan, sehingga ia menyimpulkan bahwa planet-planet tidaklah memancarkan cahaya sendiri, melainkan hanya memantulkan cahaya dari matahari.
3.    Kelahiran awal filsafat modern
Zaman modern dimulai dengan masa renaissance yang berarti kelahiran kembali, yaitu usaha untuk menghidupkan kembali kebudayaan klasik (yunani-romawi). Pembaharuan terpenting yang kelihatan dalam filsafat renaissance itu antroposentrismenya. Pusat perhatian pemikiranya tidak lagi lagi kosmos, seperti zaman kuno, atau tuhan seperti abad pertengahan, melainkan manusia.  Mulai dari zaman modern inilah manusia yang dianggap sebagai titik focus dari kenyataan.[17]
Latar belakang dan implikasi dari renaissance itu adalah sebagai berikut:
a.       Pudarnya kekuasaan  politik dan kekuasaan spiritual yang mengakibatkan lahirnya cita-cita semangat pembaharuan dan pembebasan.
b.      Berkembangnya jiwa dan semangat individualism.
c.       Pertentangan antara universalia dan individualia berakhir dengan kemenangan individualia. Hal ini menimbulkan akibat-akibat sebagai berikut:[18]
1)      Warga masyarakat tidak lagi menerima dogma/agama yang digambarkan ada tangan pada masing-masing diri manusia.
2)      Pandangan bercorak subtansialistis dan metode pendekatan ilmiah secara deduktif, dikalahkan oleh metode-metode induktif dan empiris untuk menemukan kebenaran-kebenaran individual.
d.      Timbulnya rasa kebanggaan tehadap harta dan derajat manusia. Gejala ini menunjukkan manifestasinya kepada kepercayaan diri bahwa manusia dengan kebebasan, nillai individualis yang optimal, kemampuan ilmiahnya merasa mampu untuk menguasai alam semesta ini.
Zaman modern juga ditandai dengan berbagai penemuan dalam bidang ilmiah. Perkembangan ilmu pengetahuan pada zaman  modern sesungguhnya sudah dirintis sejak zaman renaissance. Seperti re
ne Descartes, tokoh yang terkenal sebagai bapak filsafat modern. Rene Descartes juga seorang ahli ilmu pasti. Penemuanya dalam ilmu pasti adalah system koordinat yang terdiri atas dua garis lurus X dan Y dalam bidang  datar. Isaac newton dengan temuanya teori gravitasi. Charles Darwin dengan teorinya struggle for lifer(perjuangan untuk hidup). JJ Thomson dengan temuanya electron. Berikut penjelasan sekilas dari filsuf-filsuf tersebut:[19]


a.       Rene Descartes
Menemukan dalam ilmu pasti ialah system koordinat yang terdiri atas dua garis lurus X dan Y dalam bidang datar. Garis X letaknya horizontal dan disebut axis atau sumbu X, sedangkan garis Y letaknya tegak lurus pada sumbu X. karena system tersebut didasarkan pada dua garis lurus yang berpotongan tegak lurus, maka system koordinat itu dinamakan orthogonal coordinate system. Kedudukan tiap titik dalam bidang tersebut diproyeksikan dengan garis-garis lurus pada sumbu X dan sumbu Y. dengan demikian kedudukan tiap titik potong kedua sumbu menyusuri sumbu-sumbu tadi. Pentingnya system yang dikemukakan oleh descartes ini terletak pada hubungan  yang diciptakanya antara ilmu ukur bidang datar dengan al-jabar. Tiap titik dapat dinyatakan serupa dengan dua koordinat Xi dan Yi. Panjang garis dapat dinyatakan  serupa dengan hukum phytagoras mengenai hypothenusa. Penemuan Descartes ini dinamakan analytic geometry.
b.      Isaac newton
Berperan dalam ilmu pengetahuan modern terutama penemuanya dalam tiga bidang, yatu teori gravitasi, perhitungan calculus, dan optika:
1)   Teori gravitasi adalah perbincangan lanjutan mengenai soal pergerakan yang telah dirintis oleh Galileo dan keppler. Galileo mempelajari pergerakan dengan lintasan lurus. Kepler mempelajari pergerakan dengan lintasan tertutup atau elips. Berdasarkan perhitungan yang diajukan oleh keppler menunjukkan bahwa tentu ada factor penyebab mengapa planet tidak mengikuti pergerakan dengan lintasan lurus. Dugaan sementara penyebab ditimbulkan oleh matahari yang menarik bumi atau antara matahari dengan bumi ada gaya saling tarik-menarik. Persoalan itu menjadi obsesi newton, namun ia menghadapi berbagai kesukaran. Perhitungan besarnya bumi dan matahari belum diketahui, dan newton belum mengetahui bahwa pengaruh benda pada benda yang lain dapat dipandang dan hitung dari pusat titik berat benda-benda tadi setelah kedua hal ini diketahui oleh newton, barulah ia dapat menyusun teori gravitasi. Teori gravitasi ini dapat menerangkan dasar dari semua lintasan planet dan bulan, pengaruh pasang surutnya  air samudera, dan peristiwa astronomi lainya. Teori gravitasi newton ini dipergunakan oleh para ahli berikutnya untuk membuktikan laboratorium dan penemuan planet baru dialam semesta.
2)   Perhitungan calculus, yaitu hubungan antara X dan Y. kalau X bertambah, maka Y akan bertambah pula, tetapi menurut ketentuan yang tetap atau teratutr. Misalnya ada benda bergerak, panjangnya jarak yang ditempuh tergantung dari kecepatan tiap detik dan panjangnya waktu pergerakan. Cara perhitungan calculus ini banyak manfaatnya untuk menghitung berbagai hubungan antara dua atau lebih hal yang berubah, bersama dengan ketentuan yang teratur.
3)   Optika atau mengenai cahaya; jika matahari dilewatkan sebuah prisma, maka cahaya asli yang kelihatanya homogen menjadi terbias antara merah sampai ungu, menjadi pelangi. Kemudian kalau pelangi itu dilewatkan sebuah prisma lainya, maka pelangi terkumpul kembali menjadi cahaya homogen. Dengan demikian dapat dibuktikan bahwa cahaya itu sesungguhnya terdiri atas komponen yang terbentang antara merah dan ungu.
c.       Charles Darwin
dikenal sebagai penganut teori evolusi yang fanatic. Darwin menyatakan bahwa perkembangan  yang terjadi pada mahluk di bumi terjadi karena seleksi alam. Teorinya yang terkenal adalah struggle for life(perjuangan untuk hidup). Darwin berpendapat bahwa perjuangan  untuk hidup berlaku pada setiap kumpulan mahluk hidup yang sejenis, karena meskipun sejenis namun tetap menampilkan kelainan-kelainan kecil. Mahluk hidup yang berkelainan kecil itu berbeda-beda daya menyesuaikan dirinya terhadap lingkungan. Mahluk hidup yang dapat menyesuaikan diri akan memiliki peluang yang lebih besar untuk bertahan hidup lebih lama, sedangkan yang kurang dapat menyesuaikan diri akan tersisihkan karena kalah bersaing. Oleh karena itu yang dapat bertahan adalah paliaanag unggul (survival of the fittest)..[20]
Zaman modern ditandai dengan munculnya rasionalisme rene descartes(1596-1650), B. Spinoza(1632-1677), dan G.libniz(1646-1716). Mereka menekankan pentingnya rasio atau akal budi manusia.[21]

Pada abad ke-18 terkenal dengan zaman pencerahan, (einlighment, aufklarung) dengan munculnya tokoh-tokoh empirisme. Istilah empirisme memilih pengalaman sebagai sumber utama pengalaman, baik pengalaman lahiriah  yang menyangkut dunia maupun pengalaman batiniah yang menyangkut pribadi manusia saja.[22]
Tokoh-tokoh empirisme antara lain, di inggris john locke(1632-1704), George Berkeley(1684-1753), dan david hume(1711-1776), di perancis jean Jacques rousseau(1712-1778), dan dijerman Immanuel kant(1724-1804), selain itu, ditandai pula munculnya aliran idealism seperti J.fichti(1762-1814), f. schelling (1775-1854), dan G.W. Hegel(1770-1831).[23]
Dalam filsfat empirisme David hume filsafat barat yng mengembangkan filsafat empirisme locked an barkley mengatakan manusia tidak membawa pengetahuan bawaan  dalam hidupnya. Sumber pengetahuan  adalah pengamatan . pengamatan memberikan dua hal, yaitu kesan-kesan(impression) dan pengertian-pengertian atau ide-ide(idea). Yang dimaksud kesan-kesan adalah pengamatan langsung yang diterima dari pengalaman, baik pengamatan lahiriah maupun batiniah, yang menampakkan diri dengan jelas, hidup dan kuat seperti, merasakan tangan terbakar . yang dimaksud dengan ide adalah gambaran tentang pengamatan yang redup, samar-samar, yang dihasilkan dengan merenungkan kembali atau merefleksikan dalam kesadaran kesan-kesan yang diterima dari pengalaman. [24]
David hume menegaskan bahwa pengalaman lebih member keyakinan disbanding kesimpulan logika atau kemestian sebab akibat yang hanya memberikan hubungan yang saling berhubungan.[25]
C.     Penutup
Kesimpulan
1.      Humanism barat adalah suatu gerakan filsafat yang  mengusung  tema  sebuah kebebasan Yang bertujuan untuk mengurangi peranan institusi gereja dan kerajaan serta meningkatkan perkembangan yang harmonis dari sifat-sifat dan kecakapan alamiah manusia. Dalam islam humanism lebih dikenal dengan istilah ikhtiar
2.      Renaissance merupakan istilah yang digunakan untuk konsep sejarah yang menunjuk kepada periode yang bersifat individualisme, kebangkitan  kebudayaan antik, penemuan dunia dan manusia, sebagai periode yang dilawankan dengan periode abad pertengahan dimana alam pikiran dikungkung oleh gereja. Dalam keadaan seperti itu kebebasan pemikiran amat terbatas, perkembangan  sains dan filsafat sulit terjadi, bahkan bisa dikatakan manusia tidak mampu menemukan dirinya sendiri. Ciri-ciri filsafat renaissance ada pada filsafat modern yaitu menghidupkan kembali rasionalisme yunani(renaissance, individualism, humanism, lepas dari pengaruh agama dan lain-lainya.
3.      Zaman modern dimulai dengan masa renaissance yang berarti kelahiran kembali, yaitu usaha untuk menghidupkan kembali kebudayaan klasik(yunani-romawi). Pudarnya kekuasaan  politik dan kekuasaan spiritual yang mengakibatkan lahirnya cita-cita semangat pembaharuan dan pembebasan. Sedangkan implikasi dari renaissance adalah:
a.       Berkembangnya jiwa dan semangat individualism.
b.      Pertentangan antara universalia dan individualia berakhir dengan kemenangan individualia. Hal ini menimbulkan akibat-akibat sebagai berikut
1)      Warga masyarakat tidak lagi menerima dogma/agama yang digambarkan ada tangan pada masing-masing diri manusia.
2)      Pandangan bercorak subtansialistis dan metode pendekatan ilmiah secara deduktif, dikalahkan oleh metode-metode induktif dan empiris untuk menemukan kebenaran-kebenaran individual.
3)      Timbulnya rasa kebanggaan tehadap harta dan derajat manusia. Gejala ini menunjukkan manifestasinya kepada kepercayaan diri bahwa manusia dengan kebebasan, nillai individualis yang optimal, kemampuan ilmiahnya merasa mampu untuk menguasai alam semesta ini.
Demikian penjelasan makalah yang dapat saya sampaikan. Semoga bisa menambahkan wawasan ilmu pengetahuan bagi kita semua amin…


[1] Surajiyo, ilmu filsafat suatu pengantar,  (Jakarta, pt bumi aksara: 2005), hal.154
[2] Amsal bachtiar, filsafat agama,(Jakarta: PT Rajagrafindo persada, 2009), hal146
[3] ibid
[4] Ibid, hal 146
[5] Ibid, hal 147
[6] www.
[7] Ahmad tafsir, filsafat umum, akal dan hati sejak thales sampai capra,( bandung: PT
. remaja rosdakarya, 2009), Cet. 17, hal.124
[8]Ahmad tafsir Ibid.
[9]Ahmad tafsir Ibid, hal.113
[10]Ahmad tafsir Ibid.
[11] Harun hadiwijayano, sari sejarah filsafat barat, ( Yogyakarta: kanisius, 1980), hal. 11
[12] Rizal mustansyir dan misnal munir, filsafat ilmu( Yogyakarta: pustaka pelajar, 2009), cet.IX, hal.69
[13] Jerome R. Ravertz, filsafat ilmu,( Yogyakarta, pustaka pelajar, 2009), cet. Iv, hal. 28
[14] Ibid
[15] Ahmad tafsir, op.cit, hal 127
[16] Surajiyo,  filsafat ilmu dan perkembanganya di Indonesia suat pengantar, (Jakarta, pt bumi aksara, 2010), cet. 5, hal.86-87
[17] Surajiyo, lock.cit, hal157
[18] Ibid, hal. 158
[19] Lock.cit, filsafat ilmu dan perkembanganya di Indonesia suatu pengantar, hal.87
[20] Lock.cit, filsafat ilmu dan perkembanganya di Indonesia suatu pengantar, 87-89
[21] Lock.cit, filsafat ilmu dan perkembanganya di Indonesia suatu pengantar,
[22] Lock.cit, filsafat ilmu dan perkembanganya di Indonesia suatu pengantar,
[23] Lock.cit, filsafat ilmu dan perkembanganya di Indonesia suatu pengantar,
[24] Amsal bakhtiar, ibid, hal108
[25] ibid

Tidak ada komentar:

Posting Komentar