Selasa, 13 Januari 2015

ihlas



IHLAS
Pada dasarnya penciptaan manusia tidak lain hanyalah untuk menyembah kepada Allah yang maha esa. Ibadah-ibadah yang telah diperintahkan ditujukan agar manusia mendapat pahala dan manfaat yang diperoleh dari sebuah amal yang telah dilakukan. Akan tetapi tidak semua manusia mendapat pahala atas ibadah dan amal yang telah dilakukan. Ada beberapa hal yang mengakibatkan  sebuah amal itu diterima dan ditolak oleh Tuhan yang akhirnya manusia itu tidak mendapatkan pahala apapun. Salah satu perkara yang mempengaruhi diterimanya sebuah amal adalah ihlash. .
Berbicara tentang ihlas, kami akan membahas sedikit poin yang berhubungan dengan hadis :
A.    Apa yang dinamakan ihlas ?
B.     Teks-teks Hadist yang menjelaskan tentang ihlas
C.     Bagaimana Pandangan ulama mengenai Hadist ihlas?
D.    Kontekstualisasi ihlas dan realisasinya dalam kehidupan
Pembahasan-pembahasan ini bertujuan untuk:
1.      Mengetahui definisi ihlas
2.      Mngetahui teks-teks Hadis yang menjelaskan tentang ihlas
3.      Mmengetahui pandangan ulama mengenai Hadist ihlas
4.      Mengetahui kontekstualisasi ihlas dan realisasinya dalam kehidupan
A.    Definisi ihlas
Secara etimologis, kata ikhlas merupakan bentuk mashdar dari kata akhlasha yang berasal dari akar kata أخلص – يخلص- إخلاص yang artinya membersihkan, ikhlas, jujur, tulus. Sedangkan menurut istilah ihlas adalah berbuat amal karena allah semata baik amal yang diperbuat sedikit maupun banyak. Definisi ini sama dengan apa yang di ucapkan oleh al-Habib Abdillah Ibn Husain Ibn Thohir Ibn Muhammad Ibn Hasyim al-Banglawiy :
الإخلاص لله تعالى في جميع الأفعال والأقوال والأعمال قلّت أو كثرت وهو كما ورد في خبر العمل لله عزّ وجلّ وحده [1]
Artinya: Ihlas karena Allah ta’ala dalam semua perbuatan dan perkataan dan amal-amal baik amal itu sedikit ataupun banyak yaitu beramal karena Allah semata seperti apa yang terkandung dalam khabar.
 Beliau juga menambahkan“ ihlas yang sampurna adalah mengesakan Allah ta’ala dengan tujuan taat yang taat tersebut ditujukan hanya untuk taqarrub ilallah bukan hal yang lain seperti berpura-pura berbuat baik karena mencari pujian dari manusia atau suka pujian atau hal-hal lainya selain taqarrub ilaAllah. Sedangkan  ibadah-ibadah karena mencari pahala ahirat atau mencari kemulyaan dalam dunia serta mencari keselamatan dari bahaya-bahaya dunia tidak termasuk ihlas yang sempurna.”
Sayyid Sabiq merumuskan definisi ikhlas sebagai berikut:[2]
الإِخْلاَصُ , اَنْ يَّقْصُدَ الإِنْسَانُ بِقَوْلِهِ وَ عَمَلِهِ وَ جِهَادِهِ وَجْهَ اللهِ وَابْتِغَاءَ مَرْضَاتِهِ مِنْ غَيْرِ نَظْرٍ اِلَى مَغْنَمٍ اَوْ جَاهٍ اَوْ لَقَبٍ اَوْ مَظْهَرٍ اَوْ تَقَدَّ مٍ اَوْ تَأَخَّرٍ لِيَزْتَفِعَ الْمَرْءَ عَنْ نَقَائِصٍ الاَعْمَالِ وَرَذَائِلِ الاَخْلاَقِ وَ يَتَّصِلَ مُبَاشِرَةٍ بِااللهِ
“Ikhlas adalah menyengaja manusia dengan perkataannya, amalnya, dan jihadnya karena Allah semata-mata dan karena mengharap ridho-Nya. Bukan karena mengharap harta, pujian, gelar, kemasyhuran, atau maju mundurnya. Amalnya terangkat dari kekurangan-kekurangan dan terangkat dari akhlak yang tercela dan dengan demikian ia menemukan kesukaan akan allah.”
B.     Dalil-dalil yang menjelaskan ihlas dan larangan riya
Dalam menentukan kualitas sebuah amal, apakah itu diterima ataupun tidak, bisa dilihat dari niat seseorang yang berbuat amal tersebut. Jika perbuatan itu disertai dengan niat yang tulus dan ihlas karena Allah, maka perbuatan itu pasti diterima Allah. Akan tetapi, jika perbuatan itu tidak dibarengi niat yang ihlas karena Allah, maka amal tersebut akan ditolak .
Dalam mengerjakan aktifitas hendaknya selalu disertai dengan niat yang ihlas karena Allah. Keharusan menyertakan niat yang ihlas karena Allah dalam setiap mengerjakan aktifitas kebaikan itu berdasarkan firman Allah ta’ala:[3]
قال الله تعالي: (وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ) (البينة: 5)
Artinya: 5. Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus[1595], dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.

[1595] Lurus berarti jauh dari syirik (mempersekutukan Allah) dan jauh dari kesesatan.
`s9 tA$uZtƒ ©!$# $ygãBqçté: Ÿwur $ydät!$tBÏŠ `Å3»s9ur ã&è!$uZtƒ 3uqø)­G9$# öNä3ZÏB 4 y7Ï9ºxx. $ydt¤y ö/ä3s9 (#rçŽÉi9s3çGÏ9 ©!$# 4n?tã $tB ö/ä31yyd 3 ÎŽÅe³o0ur šúüÏZÅ¡ósßJø9$# ÇÌÐÈ [4] 
37. Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi Ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.

ö@è% bÎ) (#qàÿ÷è? $tB Îû öNà2Írßß¹ ÷rr& çnrßö6è? çmôJn=÷ètƒ ª!$# 3 ãNn=÷ètƒur $tB Îû ÏNºuq»yJ¡¡9$# $tBur Îû ÇÚöF{$# 3 ª!$#ur 4n?tã Èe@à2 &äó_x« ֍ƒÏs% ÇËÒÈ 
29. Katakanlah: "Jika kamu Menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu atau kamu melahirkannya, pasti Allah Mengetahui". Allah mengetahui apa-apa yang ada di langit dan apa-apa yang ada di bumi. dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Ikhlas merupakan salah satu pilar yang terpenting dalam Islam. Karena ikhlas merupakan salah satu syarat untuk diterimanya ibadah Hal ini bisa dilihat dari Hadits yang diriwayatkan oleh :
1.     Abu Naim meriwayatkan sebuah Hadis :
ذروةالإيمان  أربع خلال : الصبر للحكم والرضا بالقدر والإخلاص للتوكل والإستسلام للرب (رواه أبونعيم عن أبي الدرداء) [5]
Artinya: luhurnya iman itu ada empat : yaitu sabar terhadap hukum Allah, ridlha terhadap qadar Allah, ikhlas karena tawakkal,tunduk dan patuh kepada Tuhan.
2.     Imam Thobroni:
نيّةالمؤمن خيرمن عمله وعمل المنافق خيرمن نيّته وكل يعمل على نيّته.[6]
Artinya : niatnya seorang mukmin itu lebih baik daripada perbuatanya, dan amalnya seorang yang munafiq itu lebih baik daripada niatnya, dan setiap masing-masing itu beramal menurut niatnya.
3.      Hadis yang diriwayatkan  Imam Thirmidzi:
أفضل الأعمال النيّة الصادقة [7]
Artinya : Paling utama-utamanya amal-amal adalah niat yang tulus
4.     Hadis riwayat Imam Daruquthni
أخلصوا  أعمالكم لله فإن الله لا يقبل إلاّ ما خلص له[8]
Artinya : Bersihkanlah amal-amal kalian untuk Allah, karena sesungguhnya Allah tidak menerima kecuali amal yang ihlas karena Allah.
5.      Hadist riwayat  Imam Nasa’i:
إن الله تعالى لا يقبل من العمل إلا ما كان خالصا وابتغى به وجهه[9]
Artinya: sesungguhnya Allah taala tidak menerima amal kecuali amal yang ihlas dan mencari dzat Allah.
6.      Mush’ab Bin Sa’ad meriwayatkan hadis dari ayahnya RA bahwasanya ia mengira dirinya memiliki keutamaan dibandingkan dengan sahabat-sahabat Rasulullah SAW yang lain. Mendengar perkataan seperti itu, Nabi SAW bersabda(artinya), “ sesungguhnya Allah akan menolong umat ini berkat orang-orang yang lemah di antara mereka , doa mereka, shalat mereka, dan keikhlasan mereka.
Sedangkan kebalikan ihlas adalah riya, da;am mengerjakan suatu amal Rasulullah SAW  melarang perbuatan riya
عن أمير المؤمنين أبي حفص عمر بن الخطاب بن نفيل بن عبد العزي بن رباح بن عبد الله بن قرط بن رزاح بن عدي بن كعب بن لؤس بن غالب القرشي العدوي ـ رضي الله عنه ـ قال: سمعت رسول الله صلي الله عليه وسلم يقول: ((إنما الأعمال بالنيات وإنما لكل امري ما نوي فمن كانت هجرته إلي الله ورسوله، فهجرته إلي الله ورسوله، ومن كانت هجرته لدنيا يصيبها، أو امرأة ينكحها، فهجرته إلي ما هاجر إليه)) ؛ متفق على صحته؛ رواه إماما المحدثين: أبو عبد الله محمد بن إسماعيل بن إبراهيم ابن المغيرة بن بردزبة الجعفي البخاري، وأبو الحسين مسلم بن الحجاج ابن مسلم القشيري النيساوي ـ رضي الله عنهما ـ في صحيحيهما اللذين هما اصح الكتب المصنفة.[10]

Artinya: saya pernah mendengar Rasulullah SAW telah bersabda” sesungguhnya amal-anal itu tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya tiap-tiap orang akan mendapatkan apa yang diniatkan, maka barang siapa yang hijrahnya kepada allah dan rasulnya maka hijrahnya kepada allah dan rasulnya dan barang siapa hijrahnya kepada dunia untuk memilikinya atau kepada wanita untuk dinikahinya maka hijrahnya kepada apa yang menjadi tujuanya itu.
Hadis diatas memberikan pelajaran berharga bagi kita, agar tidak mendua dalam niat ketika mengerjakan amal perbuatan. Karena niat yang mendua (tidak fokus semata-mata karena dan hanya untuk Allah) dapat merusak esensi amal perbuatan yang kita kerjakan.
Permasalahan riya dan syirik adalah sesuatu yang amat berbahaya, maka sebagai seorang muslim sejati akan berusaha keras untuk dapat lolos dari jeratan riya dan segala sesuatu yang dapat menghanguskan  semua amalkebaikan.
C.     Pandangan ulama’ mengenai Hadist ihlas
1.      Imam Sausi[11] dalam menjelaskan ihlas  berpendapat” orang ihlas itu tidak merasa melihat ada keihlasan dalam dirinya, maka barang siapa di dalam ihlasnya ia melihat ihlas maka ihlasnya orang tersebut membutuhkan rasa ihlas lagi.
Pendapat di atas mengisyaratkan bahwa dalam sebuah amal perlu adanya  pembersihan dari sifat-sifat seperti ujub(sombong), karena berpaling dari ihlas dan melihat ke ihlas itu adalah ujub, sedangkan ujub itu merupakan bagian dari afat(kebinasaan)/ perkara yang merusak amal. Artinya jika seseorang tersebut sudah merasa dirinya ihlas dalam beramal maka orang tersebut mempunyai ujub.
2.      Imam Ruwaim mengatakan” keihlasan dalam amal itu adalah  orang yang berbuat amal tidak mengharapkan ganti di unia dan ahirat. makna ihlas yang ditunjukkan oleh imam Ruwaim merupakan makna ihlas secara haqii yaitu ihlasnya para siddiqin yang tidak mengharapkan apapun atas amal yang telah diperbuatnya kecuali hanya mengharapkan keridhoaan Allah SWT semata. Adapun apabila ada seseorang yang  yang beramal  karena mengharapkan surge dan takut neraka merupakan ihlasnya seseorang dalam mencari kesenangan batin dan farji, akan tetapi ihlas yang yang dicari oleh dzawil al-albab hanyalah dzat Allah semata.[12]
3.      Imam Abu Ustman: Ihlas adalah melupakan perhatian mahluk karena senantiasa memperhatikan sang pencipta.[13]
4.      Imam Fudhail:”meninggalkan beramal karena manusia itu adalah riya, sedangkan beramal krena manusia adalah syirik.[14]
5.      Syeikh Mustafa al-Gholayaini menjelaskan “Antara amal dan ihlas ibarat sebuah raga dan ruh, ketika ruh itu terpisah dari raganya, maka ia bagaikan bangkai, tidak bisa bergerak dan tidak ada manfaat yang bisa diharapkan dari bangkai tertsebut”.[15]
D.    Kontekstualisasi Ihlas Dan Realisasinya Dalam Kehidupan
Pentingnya Prilaku ikhlas dalam kehidupan sehari-hari sangat berperan sekali dalam kehidupan kerena ikhlas untuk menjalani sesuatu akan bernilai ibadah disisi Allah.
Sebetulnya sangat sulit sekali mendefinisikan ihlas dan mengetahuinya secara hakiki, karena Ihlas merupakan perbuatan hati yang tidak ada seorangpun mengetahuinya apakah orang yang beramal itu memang betul-betul ihlas atau tidak, kecuali Allah. Dalam hal ini Nabi Muhammad SAW bersabda :[16]
سألت جبريل عن الإخلاص: قال سألت الله عزّوجلّ عن الإخلاص قال : هو سرّ من أسراري أودعته قلب من أحببته من عبادي) رواه أبوالقاسم القشيري في الرسالة بسند ضعيف.
Artinya: saya pernah bertanya kepada jibril tentang ihlas, beliau berkata: saya pernah bertanya kepada Allah azza wajalla tentang ihlas, Allah bersabda: ihlas merupakan rahasia dari rahasia-rahasiaku, saya telah meninggalkanya di hati hamba-hambaku yang aku cintai.
Akan tetapi Dzu al-Nun memberikan sedikit gambaran tentang tanda-tanda orang yang ihlas:[17]
ثلاث من علامات الإخلاص : إستواء المدح والذمّ من العامّة,  ونسيان رؤيةالأعمال في الأعمال : بأن لاينظر لنفعها وضرّها لتنسى مدح الخلق وذمهم عليها, ونسيان إقتضاء ثواب الأعمال في الأخرة : بأن لا يخطر لك جزاء على عملك دنيوي وأخرويّ
Artinya : ada tiga tanda-tanda ihlas : yaitu sama antara dipuji dan dicela dari pandangan umum, melupakan memperhatikan amal dalam beramal: seakan-akan orang tersebut tidak memperdulikan manfaat dan bahayanya amal karena lupa terhadap pujian dan cacian manusia atas amalnya, dan melupakan tujuan mencari pahalanya amal di akhirat: seakan-akan kamu tidak hawatir dengan balasan duniawi dan uhrawi atas amalmu,
Menjadi manusia yang ikhlas dan pasrah dalam menjalani hidup dan ketentuan transendental merupakan salah satu konsep Islam yang penting. Apapun yang dikerjakan umat muslim untuk kebaikan, termasuk menjalankan perintah Allah dan menghen¬tikan larangan-Nya, haruslah dijalani dengan ikhlas, seperti di-sampaikan Allah dalam Surat (4) An Nisaa' ayat 125: Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan.
Sikap hidup yang ikhlas membuat batin menjadi kaya dan hidup lebih enteng untuk dijalani. lkhlas mencerminkan adanya kesadaran atau kemauan untuk mengerjakan segala sesuatu dengan maksimal dan melakukan introspeksi untuk perbaikan betapapun beratnya beban yang harus dipikul. Secara spiritual, ikhlas merupakan sikap dan perilaku manusia dengan kecerdasan transendental yang tinggi.
Cara agar kita dapat mencapai rasa ikhlas adalah dengan mengosongkan pikiran disaat kita sedang beribadah kepada Allah SWT. Kita hanya memikirkan Allah, shalat untuk Allah, zikir untuk Allah, semua amal yang kita lakukan hanya untuk Allah. Lupakan semua urusan duniawi, kita hanya tertuju pada Allah. Jangan munculkan rasa riya’ atau sombong di dalam diri kita karena kita tidak berdaya di hadapan Allah SWT. Rasakanlah Allah berada di hadapan kita dan sedang menyaksikan kita. Insya Allah dengan cara tersebut keikhlasan dapat dicapai. Dan jangan lupa untuk berdo’a memohon kepada Allah SWT agar kita dapat beribadah secara ikhlas untuk-Nya, sebagaimana do’a Nabi Ibrahim a.s, ”Sesungguhnya jika Rabb-ku tidak memberi hidayah kepadaku, pastilah akutermasuk orang-orang yang sesat.” (QS. al An'aam:77).[18]
Ihlas merupakan upaya agar dalam urusan ibadah tidak timbul dalam penyelewengan, Hadis Nabi dan riwayat muslim dan lain-lain telah memperingatkan bahwa orang yang beramal tanpa dasar tuntunan agama akan ditolak, tidak akan diterima allah.
Ihlas merupakan sendi ibadah yang akan diterima. Hakikat ibadah bukan dalam bentuk pekerjaan lahiriah, tetapi  pada hati yang murni. QS al-Kahfi[18]: 110 mengajarkan, barang siapa yang mengharapkan bertemu dengan Allah, hendaklah berbekal pada amal saleh dan ibadah yang ihlas.[19]
QS al-Bayyinah[98] :5 menyebutkan bahwa orang ahli kitab hanyalah diperintahkan untuk beribadah  kepada allah dengan niat yang murni, taat kepada allah dan jauh dari kemusyrikan, mendirikan salat dan membayar zakat.[20]
Hadis Nabi yang diriwayatkan Bukhori-Muslim dari Umar” mengajarkan bahwa nilai perbuatan adalah tergantung niatnya, tiap-tiap orang akan memperoleh sesuai dengan apa yang diniatkan, orang yang ikut berhijrah karena allah dan mengikuti rasulnya dan didasari dengan ihlas karena Allah akan memperoleh pahala. Jika hijrahnya karena ingin memperoleh keduniaan atau mengikuti perempuan yang akan dinikahinya, maka hijrahnya akan memperoleh sesuatu yang telah diniatinya.[21]
Dari banyak ayat al-Qur’an dan Hadis Nabi yang diperoleh penegasan bahwa hanay ibadah yang dilakukan dengan ihlas sajalah yang akan diterima oleh Allah. Ibadah yang tidak disertai dengan ihlas bagai kulit tanpa isi. Ibadah tanpa ihlas tidak akan berbekas, akan menjadi ibarat buih yang lenyap dibawa arus.
Penegasan-penegasan dalil naqli tentang pentingnya ihlas meyakinkan kita bahwa segala sesuati yang memang merupakan ajaran yang absolute dan tetap yaitu dalam bidang akidah, ibadah husu, dan ahlak, tidak akan mengalami perkembangan, penambahan, maupun pengurangan dan tidak menjadi wewenang manusia untuk mengaturnya demi menjaga keseimbangan unsure rohani dan jasmani.
Untuk mewujudkan ihlas dan terhidar dari sifat riya dalam kehidupan yaitu :[22]
1)      Mengetahui keagungan Allah ta’ala, nama-namanya, sifat-sifatnya, dan mendalami tauhid semaksimal mungkin.
2)      Mengetahui siksaan dan kenikmatan kubur
3)      Mengetahui hadis-hadis yang menjelaskan siksa neraka
4)      Mengingat kematian
5)      Sadar akan nilai dunia dan ketidak kekalanya
6)      Berdoa kepada Allah
7)      Hawatir jika mengakhiri amal dalam berbuat riya
8)      Memperbanyak amal kebaikan yang tidak dilihat orang lain dan tidak memberitahukanya kepada orang lain
9)      Bergaul dengan orang-orang yang ihlas dan bertakwa
10)  Takut berbuat riya
11)  Menghindarkan diri dari perbuatan yang di benci Allah
Penutup.
Kesimpulan
1.      Ihlas adalah berbuat amal yang semata-mata hanya untuk mencari keridlhoan allah.
2.      Amal yang tidak dibarengi dengan niat yang ihlas tidak akan diterima oleh allah
3.      Ciri orang yang ihlas adalah. Ketika ia beramal ia tidak mmemperdulikan pujian dan hinaan orang lain, tidak mengharapkan balasan apapun,
4.      Meninggalkan berbuat amal baik karena takut disangka ria adalah ria.
5.      Pentingnya Prilaku ikhlas dalam kehidupan sehari-hari sangat berperan sekali dalam kehidupan kerena ikhlas untuk menjalani sesuatu akan bernilai ibadah disisi Allah.
Selanjutnya penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada para pembaca, yang bersedia meluangkan waktunya untuk mengkaji makalah ini. Dan setelah membaca semoga kita diberi ilmu tambahan atas  pengetahuan kita, amiin.
Selain itu penulis juga berharap kepada para pembaca makalah ini, untuk memberikan saran dan kritik jika ada kekurangan dalam makalah. Dan ikut berpartisipasi membantu memperbaiki makalah kami ini.







Dafar Pustaka.
‘Audah, Husain al-Awayisyah, Keajaiban Ihlas ; Yogyakarta, Maktabah Al-Hanif, 2013),Cet 4, 
al-Ghozali, Ihya’ Ulum al-Din; Singapura, Haramain, 761 M.
al-Ghalayaini, Mustafa, ‘Idhot al-Nasyiin; Surabaya, Dar al-Ilmi, TTh.
al-Kurdi, Muhammad Amin, Tanwir al-Qulub; TTp, Haramain, TTh.
Basyir, Azhar, Ahmad, Falsafah Ibadah Dalam Islam; Yogyakarta, UII press Yogyakarta, 2003, Cet Kedua.
Ibn Husain Abdillah, Is’adur Rofiq; Surabaya, al-Hidayah, TTh,  Juz 2.
http:// bseclub.blogspot.com/2013/11/ makalah-tentang-keikhlasan.html,
Yahya, Muhyi Al-Din, Abi Zakariyya Al-Nawawi, Riyadlh Al-Sholihin,; Surabaya, Dar Al-Ilmi, TTh
Zain Muhammad, Ahmad Fauzan Hadits Nabawi Jawwaini; Rembang, Thaha Putera, TTh.



[1] Habib Abdillah Ibn Husain Ibnthohir Ibn Muhammad Ibn Hasyim Bangil, Is’adur Rofiq,( Surabaya, al-Hidayah, TTh), hal 4, juz 2.
[3]Syaikh Husain ‘Audah al-Awayisyah, Keajaiban Ihlas, ( Yogyakarta, Maktabah al-Hanif, 2013),cet 4, hal 6,
[4] Imam al-Hafidz al-Faqih Abi Zakariyya Muhyiddin Yahya al-Nawawi, Riyadlh al-Sholihin, (Surabaya, Dar al-Ilmi, TTh), hal.6
[5] Ahmad Fauzan Zain Muhammad, hadits Nabawi Jawwaini,( Rembang, Thaha Putera, TTh), hal 60
[6] Al-Habib Abdillah Ibn Husain Ibn Thohir Ibn Muhammad Ibn Hasyim, Is’adurrofiq,( Surabaya, Hidayah, TTh), hal 6
[7] Ibid
[8] ibid
[9] Ibid.
[10] Al-imam al-Khafidz al-Faqih Abi Zakariyya Muhyi al-Din Yahya al-Nawawi, Riyadhl al-Sholihin,( Surabaya, Dar al-Ilmi, TTh), hal 6
[11]  Imam ghozali, ihya’ ulum al-din,(singapura, haramain, 761 M), 369, juz.4
[12] Ibid. hal.369
[13] Ibid, hal.370.

[14] Ibid. hal 370.
[15] Syeikh Mustafa al-Ghalayaini, ‘Idhot al-Nasyiin( Surabaya, Dar al-Ilmi, TTh), hal13
[16]Syaikh Muhammad Amin al-Kurdi, Tanwir al-Qulub, ( TTp, Haramain, TTh), hal. 484
[17] Habib Abdillah ibn Husain ibn thohir ibn Muhammad ibn hasyim bangil, op.cit, hal 5 juz 2
[19] KH ahmad azhar basyir, falsafah ibadah dalam islam,(Yogyakarta, UII press Yogyakarta, 2003), cet kedua, hal.30
[20] ibid
[21] Ibid, hal 31
[22] Syaikh Husain ‘audah al-awayisyah, op.cit, hal.89

Tidak ada komentar:

Posting Komentar