IHLAS
Pada
dasarnya penciptaan manusia tidak lain hanyalah untuk menyembah kepada Allah yang
maha esa. Ibadah-ibadah yang telah diperintahkan ditujukan agar manusia
mendapat pahala dan manfaat yang diperoleh dari sebuah amal yang telah
dilakukan. Akan tetapi tidak semua manusia mendapat pahala atas ibadah dan amal
yang telah dilakukan. Ada beberapa hal yang mengakibatkan sebuah amal itu diterima dan ditolak oleh Tuhan
yang akhirnya manusia itu tidak mendapatkan pahala apapun. Salah satu perkara
yang mempengaruhi diterimanya sebuah amal adalah ihlash. .
Berbicara
tentang ihlas, kami akan membahas sedikit poin yang berhubungan dengan hadis :
A.
Apa
yang dinamakan ihlas ?
B.
Teks-teks
Hadist yang menjelaskan tentang ihlas
C.
Bagaimana
Pandangan ulama mengenai Hadist ihlas?
D.
Kontekstualisasi
ihlas dan realisasinya dalam kehidupan
Pembahasan-pembahasan ini bertujuan
untuk:
1.
Mengetahui
definisi ihlas
2.
Mngetahui
teks-teks Hadis yang menjelaskan tentang ihlas
3.
Mmengetahui
pandangan ulama mengenai Hadist ihlas
4.
Mengetahui
kontekstualisasi ihlas dan realisasinya dalam kehidupan
A.
Definisi
ihlas
Secara etimologis, kata ikhlas merupakan
bentuk mashdar dari kata akhlasha yang berasal dari akar kata أخلص – يخلص- إخلاص
yang artinya membersihkan, ikhlas, jujur, tulus. Sedangkan menurut istilah
ihlas adalah berbuat amal karena allah semata baik amal yang diperbuat sedikit
maupun banyak. Definisi ini sama dengan apa yang di ucapkan oleh al-Habib
Abdillah Ibn Husain Ibn Thohir Ibn Muhammad Ibn Hasyim al-Banglawiy :
الإخلاص لله تعالى في جميع الأفعال والأقوال والأعمال قلّت أو كثرت
وهو كما ورد في خبر العمل لله عزّ وجلّ وحده [1]
Artinya: Ihlas karena Allah ta’ala dalam semua perbuatan dan
perkataan dan amal-amal baik amal itu sedikit ataupun banyak yaitu beramal
karena Allah semata seperti apa yang terkandung dalam khabar.
Beliau juga menambahkan“ ihlas yang sampurna
adalah mengesakan Allah ta’ala dengan tujuan taat yang taat tersebut ditujukan
hanya untuk taqarrub ilallah bukan hal yang lain seperti berpura-pura berbuat
baik karena mencari pujian dari manusia atau suka pujian atau hal-hal lainya
selain taqarrub ilaAllah. Sedangkan ibadah-ibadah karena mencari pahala ahirat
atau mencari kemulyaan dalam dunia serta mencari keselamatan dari bahaya-bahaya
dunia tidak termasuk ihlas yang sempurna.”
Sayyid Sabiq
merumuskan definisi ikhlas sebagai berikut:[2]
الإِخْلاَصُ ,
اَنْ يَّقْصُدَ الإِنْسَانُ بِقَوْلِهِ وَ عَمَلِهِ وَ جِهَادِهِ وَجْهَ اللهِ
وَابْتِغَاءَ مَرْضَاتِهِ مِنْ غَيْرِ نَظْرٍ اِلَى مَغْنَمٍ اَوْ جَاهٍ اَوْ
لَقَبٍ اَوْ مَظْهَرٍ اَوْ تَقَدَّ مٍ اَوْ تَأَخَّرٍ لِيَزْتَفِعَ الْمَرْءَ عَنْ
نَقَائِصٍ الاَعْمَالِ وَرَذَائِلِ الاَخْلاَقِ وَ يَتَّصِلَ مُبَاشِرَةٍ بِااللهِ
“Ikhlas adalah
menyengaja manusia dengan perkataannya, amalnya, dan jihadnya karena Allah
semata-mata dan karena mengharap ridho-Nya. Bukan karena mengharap harta,
pujian, gelar, kemasyhuran, atau maju mundurnya. Amalnya terangkat dari
kekurangan-kekurangan dan terangkat dari akhlak yang tercela dan dengan
demikian ia menemukan kesukaan akan allah.”
B.
Dalil-dalil
yang menjelaskan ihlas dan larangan riya
Dalam menentukan kualitas sebuah
amal, apakah itu diterima ataupun tidak, bisa dilihat dari niat seseorang yang
berbuat amal tersebut. Jika perbuatan itu disertai dengan niat yang tulus dan
ihlas karena Allah, maka perbuatan itu pasti diterima Allah. Akan tetapi, jika
perbuatan itu tidak dibarengi niat yang ihlas karena Allah, maka amal tersebut
akan ditolak .
Dalam mengerjakan aktifitas
hendaknya selalu disertai dengan niat yang ihlas karena Allah. Keharusan
menyertakan niat yang ihlas karena Allah dalam setiap mengerjakan aktifitas
kebaikan itu berdasarkan firman Allah ta’ala:[3]
قال الله تعالي: (وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا
اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلاةَ وَيُؤْتُوا
الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ) (البينة: 5)
Artinya: 5. Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya
menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama
yang lurus[1595], dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan
yang demikian itulah agama yang lurus.
[1595] Lurus berarti jauh dari syirik (mempersekutukan
Allah) dan jauh dari kesesatan.
`s9 tA$uZt ©!$# $ygãBqçté: wur $ydät!$tBÏ `Å3»s9ur ã&è!$uZt 3uqø)G9$# öNä3ZÏB 4 y7Ï9ºxx. $ydt¤y ö/ä3s9 (#rçÉi9s3çGÏ9 ©!$# 4n?tã $tB ö/ä31yyd 3 ÎÅe³o0ur úüÏZÅ¡ósßJø9$# ÇÌÐÈ [4]
37. Daging-daging unta dan darahnya itu
sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi Ketakwaan dari
kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk
kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. dan
berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.
ö@è% bÎ) (#qàÿ÷è? $tB Îû öNà2Írßß¹ ÷rr& çnrßö6è? çmôJn=÷èt ª!$# 3 ãNn=÷ètur $tB Îû ÏNºuq»yJ¡¡9$# $tBur Îû ÇÚöF{$# 3 ª!$#ur 4n?tã Èe@à2 &äó_x« ÖÏs% ÇËÒÈ
29. Katakanlah: "Jika kamu Menyembunyikan apa yang ada dalam
hatimu atau kamu melahirkannya, pasti Allah Mengetahui". Allah mengetahui
apa-apa yang ada di langit dan apa-apa yang ada di bumi. dan Allah Maha Kuasa
atas segala sesuatu.
Ikhlas
merupakan salah satu pilar yang terpenting dalam Islam. Karena ikhlas merupakan
salah satu syarat untuk diterimanya ibadah Hal ini bisa
dilihat dari Hadits yang diriwayatkan
oleh :
1.
Abu Naim
meriwayatkan sebuah Hadis :
ذروةالإيمان
أربع خلال : الصبر للحكم
والرضا بالقدر والإخلاص للتوكل والإستسلام للرب (رواه أبونعيم عن أبي الدرداء) [5]
Artinya:
luhurnya iman itu ada empat : yaitu sabar terhadap hukum Allah, ridlha terhadap
qadar Allah, ikhlas karena tawakkal,tunduk dan patuh kepada Tuhan.
2.
Imam
Thobroni:
نيّةالمؤمن خيرمن عمله وعمل المنافق خيرمن نيّته وكل يعمل على نيّته.[6]
Artinya : niatnya seorang mukmin itu lebih baik daripada
perbuatanya, dan amalnya seorang yang munafiq itu lebih baik daripada niatnya,
dan setiap masing-masing itu beramal menurut niatnya.
3.
Hadis
yang diriwayatkan Imam Thirmidzi:
أفضل الأعمال النيّة الصادقة [7]
Artinya : Paling utama-utamanya amal-amal adalah niat yang tulus
4.
Hadis
riwayat Imam Daruquthni
أخلصوا أعمالكم لله فإن الله
لا يقبل إلاّ ما خلص له[8]
Artinya : Bersihkanlah amal-amal kalian untuk Allah, karena
sesungguhnya Allah tidak menerima kecuali amal yang ihlas karena Allah.
5.
Hadist
riwayat Imam Nasa’i:
إن الله تعالى لا يقبل من العمل إلا ما كان خالصا وابتغى به وجهه[9]
Artinya: sesungguhnya Allah taala tidak menerima amal kecuali amal
yang ihlas dan mencari dzat Allah.
6.
Mush’ab
Bin Sa’ad meriwayatkan hadis dari ayahnya RA bahwasanya ia mengira dirinya
memiliki keutamaan dibandingkan dengan sahabat-sahabat Rasulullah SAW yang
lain. Mendengar perkataan seperti itu, Nabi SAW bersabda(artinya), “
sesungguhnya Allah akan menolong umat ini berkat orang-orang yang lemah di
antara mereka , doa mereka, shalat mereka, dan keikhlasan mereka.
Sedangkan kebalikan ihlas adalah
riya, da;am mengerjakan suatu amal Rasulullah SAW melarang perbuatan riya
عن أمير المؤمنين أبي حفص عمر بن الخطاب بن نفيل بن عبد
العزي بن رباح بن عبد الله بن قرط بن رزاح بن عدي بن كعب بن لؤس بن غالب القرشي
العدوي ـ رضي الله عنه ـ قال: سمعت رسول الله صلي الله عليه وسلم يقول: ((إنما
الأعمال بالنيات وإنما لكل امري ما نوي فمن كانت هجرته إلي الله ورسوله، فهجرته
إلي الله ورسوله، ومن كانت هجرته لدنيا يصيبها، أو امرأة ينكحها، فهجرته إلي ما
هاجر إليه)) ؛ متفق على صحته؛ رواه إماما المحدثين: أبو عبد الله محمد بن إسماعيل
بن إبراهيم ابن المغيرة بن بردزبة الجعفي البخاري، وأبو الحسين مسلم بن الحجاج ابن
مسلم القشيري النيساوي ـ رضي الله عنهما ـ في صحيحيهما اللذين هما اصح الكتب
المصنفة.[10]
Artinya: saya pernah mendengar Rasulullah SAW telah bersabda”
sesungguhnya amal-anal itu tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya tiap-tiap
orang akan mendapatkan apa yang diniatkan, maka barang siapa yang hijrahnya
kepada allah dan rasulnya maka hijrahnya kepada allah dan rasulnya dan barang
siapa hijrahnya kepada dunia untuk memilikinya atau kepada wanita untuk
dinikahinya maka hijrahnya kepada apa yang menjadi tujuanya itu.
Hadis
diatas memberikan pelajaran berharga bagi kita, agar tidak mendua dalam niat
ketika mengerjakan amal perbuatan. Karena niat yang mendua (tidak fokus
semata-mata karena dan hanya untuk Allah) dapat merusak esensi amal perbuatan
yang kita kerjakan.
Permasalahan
riya dan syirik adalah sesuatu yang amat berbahaya, maka sebagai seorang muslim
sejati akan berusaha keras untuk dapat lolos dari jeratan riya dan segala
sesuatu yang dapat menghanguskan semua
amalkebaikan.
C.
Pandangan
ulama’ mengenai Hadist ihlas
1.
Imam
Sausi[11]
dalam menjelaskan ihlas berpendapat” orang
ihlas itu tidak merasa melihat ada keihlasan dalam dirinya, maka barang siapa
di dalam ihlasnya ia melihat ihlas maka ihlasnya orang tersebut membutuhkan rasa
ihlas lagi.
Pendapat di atas mengisyaratkan bahwa dalam sebuah amal perlu
adanya pembersihan dari sifat-sifat
seperti ujub(sombong), karena berpaling dari ihlas dan melihat ke ihlas itu
adalah ujub, sedangkan ujub itu merupakan bagian dari afat(kebinasaan)/ perkara
yang merusak amal. Artinya jika seseorang tersebut sudah merasa dirinya ihlas
dalam beramal maka orang tersebut mempunyai ujub.
2.
Imam
Ruwaim mengatakan” keihlasan dalam amal itu adalah orang yang berbuat amal tidak mengharapkan
ganti di unia dan ahirat. makna ihlas yang ditunjukkan oleh imam Ruwaim merupakan
makna ihlas secara haqii yaitu ihlasnya para siddiqin yang tidak mengharapkan
apapun atas amal yang telah diperbuatnya kecuali hanya mengharapkan keridhoaan Allah
SWT semata. Adapun apabila ada seseorang yang
yang beramal karena mengharapkan
surge dan takut neraka merupakan ihlasnya seseorang dalam mencari kesenangan
batin dan farji, akan tetapi ihlas yang yang dicari oleh dzawil al-albab
hanyalah dzat Allah semata.[12]
3.
Imam
Abu Ustman: Ihlas adalah melupakan perhatian mahluk karena senantiasa memperhatikan
sang pencipta.[13]
4.
Imam
Fudhail:”meninggalkan beramal karena manusia itu adalah riya, sedangkan beramal
krena manusia adalah syirik.[14]
5.
Syeikh
Mustafa al-Gholayaini menjelaskan “Antara amal dan ihlas ibarat sebuah raga dan
ruh, ketika ruh itu terpisah dari raganya, maka ia bagaikan bangkai, tidak bisa
bergerak dan tidak ada manfaat yang bisa diharapkan dari bangkai tertsebut”.[15]
D.
Kontekstualisasi
Ihlas Dan Realisasinya Dalam Kehidupan
Pentingnya
Prilaku ikhlas dalam kehidupan sehari-hari sangat berperan sekali dalam
kehidupan kerena ikhlas untuk menjalani sesuatu akan bernilai ibadah disisi
Allah.
Sebetulnya sangat sulit sekali
mendefinisikan ihlas dan mengetahuinya secara hakiki, karena Ihlas merupakan
perbuatan hati yang tidak ada seorangpun mengetahuinya apakah orang yang
beramal itu memang betul-betul ihlas atau tidak, kecuali Allah. Dalam hal ini
Nabi Muhammad SAW bersabda :[16]
سألت جبريل عن الإخلاص: قال سألت الله عزّوجلّ عن الإخلاص قال : هو
سرّ من أسراري أودعته قلب من أحببته من عبادي) رواه أبوالقاسم القشيري في الرسالة
بسند ضعيف.
Artinya: saya pernah bertanya kepada jibril tentang ihlas, beliau
berkata: saya pernah bertanya kepada Allah azza wajalla tentang ihlas, Allah bersabda:
ihlas merupakan rahasia dari rahasia-rahasiaku, saya telah meninggalkanya di
hati hamba-hambaku yang aku cintai.
Akan tetapi Dzu al-Nun memberikan
sedikit gambaran tentang tanda-tanda orang yang ihlas:[17]
ثلاث من علامات الإخلاص : إستواء
المدح والذمّ من العامّة, ونسيان رؤيةالأعمال
في الأعمال : بأن لاينظر لنفعها وضرّها لتنسى مدح الخلق وذمهم عليها, ونسيان
إقتضاء ثواب الأعمال في الأخرة : بأن لا يخطر لك جزاء على عملك دنيوي وأخرويّ
Artinya : ada tiga tanda-tanda ihlas : yaitu
sama antara dipuji dan dicela dari pandangan umum, melupakan memperhatikan amal
dalam beramal: seakan-akan orang tersebut tidak memperdulikan manfaat dan
bahayanya amal karena lupa terhadap pujian dan cacian manusia atas amalnya, dan
melupakan tujuan mencari pahalanya amal di akhirat: seakan-akan kamu tidak
hawatir dengan balasan duniawi dan uhrawi atas amalmu,
Menjadi manusia yang ikhlas dan pasrah dalam menjalani hidup dan
ketentuan transendental merupakan salah satu konsep Islam yang penting. Apapun
yang dikerjakan umat muslim untuk kebaikan, termasuk menjalankan perintah Allah
dan menghen¬tikan larangan-Nya, haruslah dijalani dengan ikhlas, seperti
di-sampaikan Allah dalam Surat (4) An Nisaa' ayat 125: Dan siapakah yang lebih
baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang
diapun mengerjakan kebaikan.
Sikap hidup yang ikhlas membuat batin menjadi kaya dan hidup lebih
enteng untuk dijalani. lkhlas mencerminkan adanya kesadaran atau kemauan untuk
mengerjakan segala sesuatu dengan maksimal dan melakukan introspeksi untuk perbaikan
betapapun beratnya beban yang harus dipikul. Secara spiritual, ikhlas merupakan
sikap dan perilaku manusia dengan kecerdasan transendental yang tinggi.
Cara agar kita dapat mencapai rasa ikhlas adalah dengan
mengosongkan pikiran disaat kita sedang beribadah kepada Allah SWT. Kita hanya
memikirkan Allah, shalat untuk Allah, zikir untuk Allah, semua amal yang kita
lakukan hanya untuk Allah. Lupakan semua urusan duniawi, kita hanya tertuju
pada Allah. Jangan munculkan rasa riya’ atau sombong di dalam diri kita karena
kita tidak berdaya di hadapan Allah SWT. Rasakanlah Allah berada di hadapan
kita dan sedang menyaksikan kita. Insya Allah dengan cara tersebut keikhlasan
dapat dicapai. Dan jangan lupa untuk berdo’a memohon kepada Allah SWT agar kita
dapat beribadah secara ikhlas untuk-Nya, sebagaimana do’a Nabi Ibrahim a.s,
”Sesungguhnya jika Rabb-ku tidak memberi hidayah kepadaku, pastilah akutermasuk
orang-orang yang sesat.” (QS. al An'aam:77).[18]
Ihlas merupakan upaya agar dalam urusan ibadah tidak timbul dalam
penyelewengan, Hadis Nabi dan riwayat muslim dan lain-lain telah memperingatkan
bahwa orang yang beramal tanpa dasar tuntunan agama akan ditolak, tidak akan
diterima allah.
Ihlas merupakan sendi ibadah yang akan diterima. Hakikat ibadah
bukan dalam bentuk pekerjaan lahiriah, tetapi
pada hati yang murni. QS al-Kahfi[18]: 110 mengajarkan, barang siapa
yang mengharapkan bertemu dengan Allah, hendaklah berbekal pada amal saleh dan
ibadah yang ihlas.[19]
QS al-Bayyinah[98] :5 menyebutkan bahwa orang ahli kitab hanyalah
diperintahkan untuk beribadah kepada
allah dengan niat yang murni, taat kepada allah dan jauh dari kemusyrikan,
mendirikan salat dan membayar zakat.[20]
Hadis Nabi yang diriwayatkan Bukhori-Muslim dari Umar” mengajarkan
bahwa nilai perbuatan adalah tergantung niatnya, tiap-tiap orang akan
memperoleh sesuai dengan apa yang diniatkan, orang yang ikut berhijrah karena
allah dan mengikuti rasulnya dan didasari dengan ihlas karena Allah akan
memperoleh pahala. Jika hijrahnya karena ingin memperoleh keduniaan atau
mengikuti perempuan yang akan dinikahinya, maka hijrahnya akan memperoleh
sesuatu yang telah diniatinya.[21]
Dari banyak ayat al-Qur’an dan Hadis Nabi yang diperoleh penegasan
bahwa hanay ibadah yang dilakukan dengan ihlas sajalah yang akan diterima oleh Allah.
Ibadah yang tidak disertai dengan ihlas bagai kulit tanpa isi. Ibadah tanpa
ihlas tidak akan berbekas, akan menjadi ibarat buih yang lenyap dibawa arus.
Penegasan-penegasan dalil naqli tentang pentingnya ihlas
meyakinkan kita bahwa segala sesuati yang memang merupakan ajaran yang absolute
dan tetap yaitu dalam bidang akidah, ibadah husu, dan ahlak, tidak akan
mengalami perkembangan, penambahan, maupun pengurangan dan tidak menjadi
wewenang manusia untuk mengaturnya demi menjaga keseimbangan unsure rohani dan
jasmani.
Untuk mewujudkan ihlas dan terhidar dari sifat
riya dalam kehidupan yaitu :[22]
1) Mengetahui
keagungan Allah ta’ala, nama-namanya, sifat-sifatnya, dan mendalami tauhid
semaksimal mungkin.
2) Mengetahui
siksaan dan kenikmatan kubur
3) Mengetahui
hadis-hadis yang menjelaskan siksa neraka
4) Mengingat
kematian
5) Sadar
akan nilai dunia dan ketidak kekalanya
6) Berdoa
kepada Allah
7) Hawatir
jika mengakhiri amal dalam berbuat riya
8) Memperbanyak
amal kebaikan yang tidak dilihat orang lain dan tidak memberitahukanya kepada
orang lain
9) Bergaul
dengan orang-orang yang ihlas dan bertakwa
10) Takut
berbuat riya
11) Menghindarkan
diri dari perbuatan yang di benci Allah
Penutup.
Kesimpulan
1.
Ihlas
adalah berbuat amal yang semata-mata hanya untuk mencari keridlhoan allah.
2.
Amal
yang tidak dibarengi dengan niat yang ihlas tidak akan diterima oleh allah
3.
Ciri
orang yang ihlas adalah. Ketika ia beramal ia tidak mmemperdulikan pujian dan
hinaan orang lain, tidak mengharapkan balasan apapun,
4.
Meninggalkan
berbuat amal baik karena takut disangka ria adalah ria.
5. Pentingnya
Prilaku ikhlas dalam kehidupan sehari-hari sangat berperan sekali dalam
kehidupan kerena ikhlas untuk menjalani sesuatu akan bernilai ibadah disisi
Allah.
Selanjutnya
penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada para pembaca, yang bersedia
meluangkan waktunya untuk mengkaji makalah ini. Dan setelah membaca semoga kita
diberi ilmu tambahan atas pengetahuan
kita, amiin.
Selain itu penulis juga berharap
kepada para pembaca makalah ini, untuk memberikan saran dan kritik jika ada kekurangan dalam
makalah. Dan ikut berpartisipasi membantu memperbaiki makalah kami ini.
Dafar Pustaka.
‘Audah, Husain al-Awayisyah, Keajaiban
Ihlas ; Yogyakarta, Maktabah Al-Hanif, 2013),Cet 4,
al-Ghozali,
Ihya’ Ulum al-Din; Singapura, Haramain, 761 M.
al-Ghalayaini,
Mustafa, ‘Idhot al-Nasyiin; Surabaya, Dar al-Ilmi, TTh.
al-Kurdi,
Muhammad Amin, Tanwir al-Qulub; TTp, Haramain, TTh.
Basyir, Azhar, Ahmad, Falsafah
Ibadah Dalam Islam; Yogyakarta, UII press Yogyakarta, 2003, Cet Kedua.
Ibn
Husain Abdillah, Is’adur Rofiq; Surabaya, al-Hidayah, TTh, Juz 2.
http://
bseclub.blogspot.com/2013/11/ makalah-tentang-keikhlasan.html,
Yahya, Muhyi Al-Din, Abi Zakariyya
Al-Nawawi, Riyadlh Al-Sholihin,; Surabaya, Dar Al-Ilmi, TTh
Zain Muhammad, Ahmad Fauzan Hadits
Nabawi Jawwaini; Rembang, Thaha Putera, TTh.
[1] Habib
Abdillah Ibn Husain Ibnthohir Ibn Muhammad Ibn Hasyim Bangil, Is’adur Rofiq,(
Surabaya, al-Hidayah, TTh), hal 4, juz 2.
[2] http://irrafeisal.blogspot.com/2013/09/penerapan-ikhlas-dalam-kehidupan-sehari.html,
diambil pada tanggal 10/10/2014, jam 11.41 P.m
[3]Syaikh
Husain ‘Audah al-Awayisyah, Keajaiban Ihlas, ( Yogyakarta, Maktabah al-Hanif,
2013),cet 4, hal 6,
[4]
Imam al-Hafidz al-Faqih Abi Zakariyya Muhyiddin Yahya al-Nawawi, Riyadlh al-Sholihin,
(Surabaya, Dar al-Ilmi, TTh), hal.6
[5]
Ahmad Fauzan Zain Muhammad, hadits Nabawi Jawwaini,( Rembang, Thaha Putera,
TTh), hal 60
[6]
Al-Habib Abdillah Ibn Husain Ibn Thohir Ibn Muhammad Ibn Hasyim, Is’adurrofiq,(
Surabaya, Hidayah, TTh), hal 6
[7]
Ibid
[8]
ibid
[9]
Ibid.
[10]
Al-imam al-Khafidz al-Faqih Abi Zakariyya Muhyi al-Din Yahya al-Nawawi, Riyadhl
al-Sholihin,( Surabaya, Dar al-Ilmi, TTh), hal 6
[11] Imam ghozali, ihya’ ulum al-din,(singapura,
haramain, 761 M), 369, juz.4
[12]
Ibid. hal.369
[13]
Ibid, hal.370.
[14]
Ibid. hal 370.
[15]
Syeikh Mustafa al-Ghalayaini, ‘Idhot al-Nasyiin( Surabaya, Dar al-Ilmi, TTh),
hal13
[16]Syaikh
Muhammad Amin al-Kurdi, Tanwir al-Qulub, ( TTp, Haramain, TTh), hal. 484
[17]
Habib Abdillah ibn Husain ibn thohir ibn Muhammad ibn hasyim bangil,
op.cit, hal 5 juz 2
[18] http://bseclub.blogspot.com/2013/11/makalah-tentang-keikhlasan.html,
diambil pada tanggal 10/10/2014, jam 3 A.m
[19]
KH ahmad azhar basyir, falsafah ibadah dalam islam,(Yogyakarta, UII press
Yogyakarta, 2003), cet kedua, hal.30
[20]
ibid
[21]
Ibid, hal 31
[22]
Syaikh Husain ‘audah al-awayisyah, op.cit, hal.89
Tidak ada komentar:
Posting Komentar