POKOK PEGANGAN DALAM
MENAFSIRKAN
Al-Qur'an seperti diyakini kaum muslim merupakan petunjuk
bagi manusia dalam membedakan yang haq dengan yang batil. Dalam berbagai
versinya Al-Qur'an sendiri menegaskan beberapa sifat dan ciri yang melekat di
dalamnya, di antaranya bersifat transformative
yaitu membawa perubahan untuk mengeluarkan manusia dari
kegelapan-kegelapan, Zhulumât (di bidang akidah, hukum, politik, ekonomi,
sosial budaya dll) kepada sebuah cahaya, Nûr petunjuk ilahi untuk menciptakan
kebahagiaan dan kesentosaan hidup manusia, dunia, dan akhirat. Dari prinsip
yang diyakini kaum muslim inilah usaha-usaha manusia muslim dikerahkan untuk
menggali format-format petunjuk yang dijanjikan bakal mendatangkan kebahagiaan
bagi manusia. Nah dalam upaya penggalian prinsip dan nilai-nilai Qur'ani yang
berdimensi keilahian dan kemanusiaan itulah penafsiran dihasilkan.
Dialektika antara manusia dengan realitasnya ditenggarai
turut masuk mempengaruhi proses penafsiran itu. Bukankah Al-Qur'an diturunkan
bagi manusia, untuk kemaslahatan manusia dan last but not least, untuk
"memanusiakan" manusia (bukan menjadikannya makhluk otomatis seperti
robot, mesin, hewan ataupun malaikat).
Maka dari diktum itu pulalah, konsep tentang manusia dan
identitasnya dalam menjabarkan misi kekhalifahan dan ubudiyyah di muka bumi
menjadi penentu yang determinan dalam proses mengkaji dan memahami teks suci
yang diyakini akan memberikan kesejahteraan bagi umat manusia
Sejauh
mana posisi dan peran manusia dalam proses penafsiran? apakah tugasnya hanya
menganalisa dan kemudian menerima otoritas tafsir di era pembentukannya ataukah
hanya melibatkan pengetahuan dan pengalaman penafsir atau pembaca teks sebagai
barometer dan menganggap penafsiran otoritas di masa lalu hanya berlaku untuk
saat itu (historisitas)?
Pokok
pembahasan :
1. Apa
saja pokok pegangan dalam menafsirkan
alqur’an
2. Apa
pengertian hadist dan atsar
3. Apa
yang dimaksud dengan qaidah-qaidah bahasa arab.
Pembahasan-pembahasan diatas
dimaksudan untuk :
a. Mengetahui
pokok pegangan dalam menafsirkan al-qur’an
b. Mengetahui
pengertian hadist dan atsar
c. Mengetahui
qaidah-qaidah bahasa arab dan uslubnya
A. Pokok-pokok
pegangan dalam menafsirkan al-qur’an
Menurut
badruddin Muhammad ibn abdillah ibn bahadir al-zarkasi[1]
mengatakan pokok pegangan dalam menafsirkan al-qur’an ada empat, akan tetapi
penulis akan membahas 3 point saja, :
1. Nuqil(memindah)
dari ucapan rasulullah(hadits)
2. Mengambil
ucapan para sahabat(atsar)
3. Menggunakan
qaidah-qaidah mutlak bahasa arab
Akan
tetapi sebelum menggunakan keempat ini
sebagai pegangan, Seseorang yang hendak menafsirkan sesuatu ayat Al-Qur'an,
hendaklah ia mencari tafsir ayat tersebut di dalam Al-Qur'an sendiri. Karena
seringkali ayat-ayat itu bersifat ringkas di suatu tempat, sedang penjelasannya
terdapat ditempat lain. Yakni hendaklah Ayat itu lebih dahulu ditafsirkan
dengan ayat Al-Qur'an sendiri.
Yakni hendaklah Ayat itu lebih dahulu ditafsirkan dengan
ayat Al-Qur'an sendiri. Jika tidak ada baru diperiksa As Sunnah atau Al Hadits.
Jika tidak ada lagi baru dicari dalam keterangan dari para sahabat, karena
mereka lebih mengetahui maksud-maksud ayat, lantaran mereka mendengar sendiri
dari Rasul dan mempersaksikan sebab-sebab nuzulnya ayat, suasana yang
mengelilingi turunya ayat.
Kata Ibnu Tamiyah: “wajib kita yakini, bahwa Nabi SAW, telah
menerangkan kepada para sahabat makna-makna Al-qur’an”.
Para sahabat mengetahui benar-benar bahasa arab. Mudah benar
bagi mereka memahami Al-qur’an. Mereka tidak berhajat kepada tafsir orang lain.
Kata Az Zakarsyi : “ Seseorang yang hendak menafsirkan
Al-Qur'an, hendaklah lebih dahulu memahami riwayat, lalu mengambil mana yang
shahihnya. Sesudah itu hendaklah ia memeriksa perkataan sahabat. Kemudia dari
itu barulah ia berpegang kepada ilmu bahasa dan barulah ia menafsirkan menurut
makna-makna yang dikehendaki oleh ilmu bahasa itu“
Untuk mengetahui lebih jelas bagaimana kita berpedoman dalam
menfsirkan Al- qur’an, perhatikanlah uraian Al Hafidh ‘Imaduddin Abdul Fida’
Isma’il Ibn Katsir Al Quraisy Ad Dimasqy dalam tafsirnya, ujarnya: “jika
seseorang berkata: Mana jalan tafsir yang paling bagus? Saya menjawab: “jalan
yang paling sah ditempuh, ialah mentafsirkan Al-qur’an dengan Al-qur’an. Karena
apa yang diijmalkan di suatu tempat, telah dijelaskan di tempat lain. Jika kita
tidak memperolehnya, hendaklah kita mencari As sunnah. Karena As sunnah itu
pensyarah Al-Qur’an dan penjelasannya”.
Imam Asy Syafi’i berkata: “Tiap sesuatu hukum yang
ditetapkan Rasulullah, beliau pahami dari Al-qur’an”.
Allah SWT, berfirman:
“Sesungguhnya Kami telah menurunkan kepada engkau Al kitab
dengan sebenarnya supaya engkau menetapkan antara manusia dengan apa yang Allah
perlihatkan kepada engkau dan janganlah engkau jadi penantang untuk kepentingan
kaum penghianat.”( S.16: An Nisa’,105 ).
Dan firman Allah lagi:
“Dan telah kami turunkan Adz Dzikir kepada mereka supaya
engkau menerangkan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan
supaya mereka berfikir.”( S.16:An Nahl,44).
Dan Allah berfirman lagi:
“Dan tiada Kami turunkan Al kitab kepada engkau melainkan
supaya engkau menerangkan kepada mereka soal-soal yang mereka perselisihkan dan
untuk menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.”(S.4: An Nahl,64).
Oleh karena itulah Nabi SAW bersabda:
“Ketahuilah, sesungguhnya telah diberikan kepadaKu Al-qur’an
dan diberikan besertanya yang menyerupainya (yakni As sunnah).”
Ringkasnya, hendaklah kita mencari tafsir Al-qur’an dari
Al-qur’an sendiri. Jika kita tidak mendapatkannya dari Al-qur’an sendiri,
carilah dalam As sunnah. Urutan ini ditegaskan oleh hadist Mu’adz, yaitu:
ketika Rasul mengutus Mu’adz pergi ke Yaman, Beliau bertanya:” Maka dengan
apakah engkau memutuskan suatu perkara”.
Mu’adz menjawab:”Dengan Kitab Allah SWT”
Nabi bertanya:”Jika engkau tidak menjumpainya (di dalam
Kitab Allah)?”
Mu’adz menjawab:”Dengan sunnah Rasulullah.”
Nabi bertanya lagi:”Jika engkau tidak menjumpainya (di dalam
sunnah)?”
Mu’adz menjawab:”Saya menjalankan ijtihad saya sendiri.”
Mendengar jawaban itu
Rasulullah menepuk Mu’adz seraya berkata:”Segala puji kepunyaan Allah yang
telah mentaufikkan utusan Rasulullah kepada yang menyenangkan rasulullah
sendiri.”
Karena itu apabila kita tidak memperoleh tafsiran dari
Al-qur’an dan di dalam As sunnah, kembalilah kita kepada pendapat-pendapat
sahabat karena mereka lebih mengetahuinya karena mereka menyaksikan sendiri dan
karena mereka mempunyai paham yang
sempurna, mempunyai ilmu yang shahih, terutama ulama-ulama sahabat dan
pembesar-pembesarnya, seperti khulafaur Rasyidin dan Abdullah ibn Mas’ud.
Imam Ibnu Jarir berkata: diceritakan kepadaku oleh Abu
Kuraib dan Masruq, ujarnya: Kata Abdullah ibn Mas’ud:
“Demi Allah yang tidak ada Tuhan selain Dia, tiada turun
sesuatu ayat Al-qur’an melainkan aku mengetahinya terhadap siapa diturunkan dan
di mana diturunkannya. Sekiranya aku mengetahui ada seseorang yang lebih pandai
tentang Kitabullah dari pada aku yang dapat didatangi dengan mengendarai
kendaraan, niscayalah aku mengunjunginya.”
Kata Al- A’masy dari Abi Wa-il dari Ibnu Mas’ud, ujarnya:
“Seseorang di antara kami apabila telah mempelajari 10 ayat,
tidak melampauinya sehingga ia mengetahui makna-makna ayat, dan mengerjakan
maksudnya.”
Kata Al Imam Ibnu Taimiyah dalam muqaddimah Ushulit Tafsir.
“Apabila engkau tidak mendapati tafsir dalam Al-qur’an, As
sunnah dan tidak mendapati tafsir sahabat, maka kembalikan kepada para
tabi’in.”[2]
B. Sabda
nabi (hadist) dan ucapan para sahabat ( atsar)
Sunnah ini berupa: ucapan-ucapan,
perbuatan-perbuatan, dan diamnya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam.
Tidak
mungkin perkataan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bertentangan
dengan Al-Qur’an. Justru perkataan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam
itu menafsirkan dan menjelaskan isi Al-Qur’an.
Hadist
menurut bahasa adalah baru. Sedangkan menurut istilah ahli hadist adalah apa
yang disandarkan kepada rasulullah Saw
baik berupa ucapan, tindakan, ketetapan nabi.
Manna’
khalil al-qattan menjelaskan salah satu syarat bagi mufassir adalah mencari
penafsiran dari sunnah (hadis) dengan alasan sunnah (hadis) berfungsi sebagai
pensyarah(penjelas) alqur’an.[3]
akan tetapi dalam menggunakan sunnah sebagai pegangan dalam menafsirkan,
Badruddin Muhammad ibn abdillah ibn bahadir al-zarkasi memberikan sebuah kriteria
hadis yang boleh dijadikan sebagai pedoman dalam menafsirkan hadis. yaitu hadis
yang tidak dlo’if dan tidak hadis maudhu’.[4]
Hadis
dlaif[5]
yaitu hadis yang tidak memenuhi syarat-syarat hadis shahih dan hadis hasan,
artinya hadis itu tidak mmempunyai sanad yang muttashil, tidak diriwayatkan
oleh perawi yang adil, perawinya tidak mempunyai dlabith yang sempurna, hadis
tersebut terdapat syadz dan illat, dan tidak mu’tamad. Sedangkan hadis maudlu’
yaitu hadis yang diciptakan dan dibuat-buat lalu dinisbatkan kepada rasulullah
secara dusta.[6]
Hadis
dloif dan maudhu’ tidak boleh digunakan sebagai pegangan dalam menafsirkan
alqur’an karena hadis tersebut tidak mempunyai sanad yang shohih dan muttashil,
dan hadis tersebut lemah jika dijadikan sebagai dasar sebuah hukum
Contoh menafsirkan kata dzulm dengan kata dengan
syirik
الَّذِينَ آمنوا ولم يلبسوا إيمانهم بظلم
Seperti halnya sunnah, asar (ucapan sahabat) juga bisa dijadikan
sebagai pegangan dalam menafsirkan alqur’an. Karena penafsiran sahabat menurut
para ulama’ derajatnya sama dengan halnya hadis marfu’.
Pengertian asar, menurut al-qosim adalah segala sesuatu yang
diriwayatkan dari sahabat dan boleh juga disandarkan kepada perkataan nabi.[7] Seperti yang dilakukan oleh Ibnu Mas’ud dan Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma. Ibnu Mas’ud termasuk sahabat
yang menemani Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam sejak dari awal dan dia
selalu memperhatikan dan bertanya tentang Al-Qur’an serta cara menafsirkannya,
sedangkan mengenai Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud pernah berkata: “Dia adalah
penterjemah Al-Qur’an.” Oleh karena itu tafsir yang berasal dari seorang sahabat
harus kita terima dengan lapang dada, dengan syarat tafsir tersebut tidak
bertentangan dengan tafsiran sahabat yang lain.[8]
Apabila dalam suatu ayat tidak kita
temukan tafsirnya dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam dan para
sahabat, pokok pegangan dalam menafsirkan adalah ucapan para tabi’in yang merupakan murid-murid para sahabat, terutama murid Ibnu Mas’ud dan Ibnu Abbas seperti : Sa’id bin Jubair, Thawus, Mujahid dan lain-lain.
Sangat
disayangkan, sampai hari ini banyak sekali ayat-ayat Al-Qur’an yang hanya
ditafsirkan dengan ra’yu (pendapat/akal) atau ditafsirkan berdasarkan
madzhab yang tidak ada keterangannya dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa
sallam secara langsung. Ini adalah masalah yang sangat mengkhawatirkan apabila
ayat-ayat Al-Qur’an ditafsirkan hanya untuk memperkuat dan membela suatu
madzhab, yang hasil tafsirnya bertentangan dengan tafsiran para ulama tafsir.
C.
Qaidah-qaidah bahasa arab dan uslubnya
Sesungguhnya
alqur’an diturunkan dengan berbahasa arab. Seseorang yang hendak menafsirkan sesuatu ayat Al-Qur'an
tentu memerlukan atau mungkin harus mengetahui qaidah-qaidah bahasa Arab dan
uslub-uslubnya yang berupa ilmu nahwu, ilmu sorof, dan ilmu balagoh. Bagaimana
mungkin biasa memakai Al-qur;an tanpa memahami perbedaan kata dan suku kalimat.
Hal itu karena Al-qur’an diturunkan sesuai dengan aturan-aturan dalam bahasa
arab. Jika tidak memiliki pengetahuan tentang gambaran umum dari aturan-aturan
bahasa arab, maka niscaya tidak akan mampu menguasai makna-makna yang
terkandung dalam Al-qur’an.
Imam malik
pernah berkata:” Seseorang yang tidak mengerti bahasa arab datang padaku untuk
menafsirkan Al-qur’an, maka kubuat dia mencabut perkataanya.”
Karena
bila lafal bahasa arab tidak selaras dengan maknanya, maka tidak bisa dikatakan
benar.
PENUTUP
Kita sebagai umat Islam sudah waktunya untuk kembali kepada
ajaran-ajaran Rasulullah SAW dan teladan para sahabat dan para tabi'in dalam
memahami dan menafsirkan Al-Qur'an. Dengan mengembalikan tujuan penafsiran pada
jalur yang benar bukan berdasarkan keegoan intelektual semata. Umat Islam harus
berani untuk menujukkan jati dirinya dengan segala pemikiran-pemikiran dan amal
perbuatannya yang tetap konsisten terhadap aturan Sang Pencipta dan Rasul-Nya
dalam menyikapi pemahaman dan pengamalan atas Al-Qur'an.
Ayat-ayat Al Qur’an yang sangat banyak ini sejatinya dapat
menjawab semua persoalan yang terjadi pada masyarakat. Namun kesan yang ada
pada saat ini seakan-akan ayat Al Qur’an masih mengandung misteri sehingga
belum mampu menjawab semua persoalan yang ada. Kesan dan pemahaman yang keliru
ini adalah akibat dari ”miskin”nya cara, memahami dan menafsirkan ayat Al
Qur’an. Maka dari itu kita harus mengetahui pokok-pokok pegangan dalam
menafsirkan Al-Qur'an.
Selanjutnya,
penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada para pembaca, yang bersedia
meluangkan waktunya untuk mengkaji makalah ini. Dan setelah membaca semoga kita
diberi ilmu tambahan atas pengetahuan
kita, amiin.
Selain itu penulis juga berharap kepada para
pembaca makalah ini,
untuk memberikan saran dan kritik jika ada kekurangan dalam makalah ini. Juga berpartisipasi membantu memperbaiki makalah kami ini.
DAFTAR PUSTAKA
Muhammad, Badruddin
ibn abdillah ibn bahadir al-zarkasi, al-burhan fi ulum al-qur’an,(libanan,
dar ihya’ al-kutub al-arabiyah, 1957),
khalil al-qattan,
Manna’, studi ilmu-ilmu qur’an(bogor,
litera antar nusa, 2012),
khalil al-qattan,
Manna’, pengantar studi ilmu hadis,
( Jakarta, pustaka al-kautsar, 2005) cet. 1,
Ash-Shiddieqqy, Tengku Muhammad Hasbi, Sejarah dan
Pengantar Ilmu Al-qur’an, Bulan Bintang, Jakarta: 1994.
Noor
Sahid,
Muhammad, Blog Pokok Pegangan Dalam Menafsirkan Al-Qur’an, Rabu,www.
Google. Com, 06 Februari 2013
[1]
Badruddin Muhammad ibn abdillah ibn bahadir al-zarkasi, al-burhan fi ulum
al-qur’an,(libanan, dar ihya’ al-kutub al-arabiyah, 1957), hal.156-161.
[2] Muhammad Noor Sahid,
Blog Pokok Pegangan Dalam Menafsirkan Al-Qur’an, Rabu,www.
Google. Com, 06 Februari 2013
[3]
Manna’ khalil al-qattan, studi ilmu-ilmu qur’an(bogor, litera antar nusa,
2012), hal. 463
[4]
Badruddin Muhammad ibn abdillah ibn bahadir al-zarkasi, Op. cit. hal 156, juz 2
[5]
Manna’ khalil al-qattan, pengantar studi ilmu hadis, ( Jakarta, pustaka
al-kautsar, 2005) cet. 1, hal. 129
[6]
Ibid, hal. 145
[7]
Muhammad ms’shum zainy al hasyimiy, zubdat ilm al-hadis pengantar memahami
nadzom baiquniyah, (jombang, darul hikmah, 2008), cet 1, hal.11
[8] Tengku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqqy,, Sejarah dan
Pengantar Ilmu Al-qur’an, Bulan Bintang, Jakarta: 1994.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar