Minggu, 21 Desember 2014

Kalimah fi'il




PENDAHULUAN

Dalam perkuliahan yang berbasiskan agama, kita sering di suguhi pelajaran yang bersinggungan dengan kitab-kitab salaf sebagai referensi dalam mata perkuliahan. Kelemahan kita adalah kesulitan memahami kitab-kitab tersebut, karena minimnya pemahaman atau tidak memahami sama sekali kaidah-kaidah dan tata bahasa arab. Oleh karena itu, mengerti kaidah-kaidah  bahasa arab bagi Mahasiswa bisa dikatakan sebuah tuntutan agar kita dapat memahami kitab-kitab salaf yang menjadi sumber kita untuk memperoleh hukum islam sesuai ajaran para ulama’ terdahulu.
Dalam tata bahasa arab, ada kata kerja yang menunjukkan perintah dan kata kerja yang menunjukkan larangan. Kata kerja yang menunjukkan perintah dinamakan fi’il amar, sedang kata kerja yang menunjukkan larangan dinamakan fi’il nahi. Makalah ini akan membahas sedikit tentang fi’il-fi’il tersebut beserta kaidah-kaidahnya.
Topik Pembahasan yang akan dikaji dalam makalah ini meliputi :
a.       Apa pengertian  fi’il amar dan fi’il nahi
b.      Bagaimana cara membuat fi’il amar dan fi’il nahi
c.       Hukum fi’il amar dan fi’il nahi
d.      Apa faedah fi’il amar dan fi’il nahi
Sedangkan tujuan penulis dalam menyusun makalah ini adalah :
1.      Untuk mengetahui definisi fi’il amar dan fi’il nahi
2.      Untuk mengetahui cara membuat fi’il amar dan fi’il nahi
3.      Untuk mengetahui hukum fi’il amar dan fi’il nahi
4.      Untuk mengetahui faedah fi’il amar dan fi’il nahi





A.    Pengertian
Menurut bahasa Fi’il Amar berasal dari kataفعل (fi’lun)yang artinya pekerjaan[1], dan kata أمر(amrun) yang artinya perintah[2]. Sedangkan menurut istilah yaitu kalimat fi’il yang menunjukkan atas tuntutan(perintah) terjadinya pekerjaan dari fa’il(subyek) ditujukan kepada mukhatab( orang yang diajak bicara) dengan tanpa mengunakan lam amar(لـ).

مَا دَلَّ عَلَى طَلَبِ وُقُوْعِ اْلفِعْلِ مِنَ الْفَاعِلِ الْمُخَا طَبَ بِغَيْرِ لَامِ الْأَمْرِ.[3]
Ma Dalla ‘Ala Thalabi Wuquu’i al-Fi’li Min al-Fi’li al-Mukhothoba Bighoiri Lam al-Amri
Artinya:
adalah fiil yang menunjukkan atas perintah terjadinya suatu pekerjaan yang datang dari subyek(pelaku) untuk mukhotobb(orang yang diajak bicara tanpa menggunakan lam amar
Sedangkan Fi’il Nahi berasal dari dua suku kata, suku kata yang pertama kataفعل  (fi’lun) yang artinya pekerjaan , dan yang kedua yaitu نهي (nahyun)  yang artinya larangan.[4] Sedangkan menurut istilah Ilmu Nahwu dan Ilmu Bayan  fi’il nahi adalah perintah untuk menghindari suatu pekerjaan atau melarang dari orang yang lebih tinggi derajatnya atau setara.
هُوَ فِيْ النَّحْوِ وَعِلْمِ الْبَيَانِ، طَلَبُ الكَفِّ عَنِ الْفِعْلِ، اَوِالْإِمْتِنَاعِ عَنْهُ،[5]
Huwa fi al-Nahwi wa ‘ilmi al-Bayaani, thalabu al-Kaffi ‘an al-Fi’li, aw al-Imtina’i ‘anhu,
artinya
Fi’il nahi dalam ilmu nahwu dan ilmu bayan adalah perintah menghindari pekerjaan atau melarang pekerjaan

Agar jelasnya lagi penulis mencoba untuk menjelaskan  sighot fi’il amar dan fi’il nahi. Mungkin kita semua pernah belajar امثلة التّصرفيّة  ( amtsilat al-Tasyrifiyah) yang diajarkan di sekolah tingkat MI/ di sekolahan ekstra (Diniyah).  pelajaran ini mempelajari tentang  perubahan  kosakata bahasa arab. Dalam tasyrifan fi’il, fi’il amar jatuh pada urutan ke-9, sedangkan fi’il nahi jatuh pada urutan ke-10. Perhatikan contoh di bawah ini

إسم ألات
إسم زمان / إسم مكان
فعل ناهي
فعل أمر
إسم مفعول
إسم إشارة
إسم فاعل
إسم ضمير
مصدر ميم
مصدر غير ميم
فعل مضارع
فعل ماضي
مِفْعَلٌ
مَفْعَلٌ 2
لَاتَفْعُلْ
أُفْعُلْ
مَفْعُوْلٌ
وَذَاكَ
فَاعِلٌ
فَهُوَ
مَفْعَلاً
فَعْلاً
يَفْعُلُ
فَعَلَ
منصر
منصر 2
لاتنصر
أنصر
منصور
"
ناصر
"
منصرا
نصرا
ينصر
نصر

Contoh fi’il amar : أُنْصُرْ
Contoh fi’il nahi ; لَاتَنْصُرْ

B.     Bagaimana cara membuat fi’il amar dan fi’il nahi
Fi’il amar itu pada dasarnya berasal dari fi’il mudhori’, maka dari itu untuk membuat  fi’il amar tinggal membuang huruf  mudhoro’ah-nya( huruf yang ada diawal shighot Mudlhori’)  jika setelah huruf mudhoro’ah-nya berupa huruf hidup.
Huruf mudhoro’ah itu ada empat dan dikumpulkan pada lafadz أنيت  (anaytu) yaitu; hamzah, nun, ya’, ta’. dan mungkin sudah dijelaskan di bab fi’il mudhore’ oleh pemakalah sebelumnya,
Contoh; تَعَلَّمْ   (belajarlah) berasal dari fi’il mudhori’ يَتَعَلَّمُ

يــــــــــــَــــــــــــــــــــــــــتَــــــــــــــــــــعـــَــــــــــلـَّــــــــــــــــــــــــــــــــــمُ
Lam fi’il
Ain fi’il pertama dan kedua(ditadlh’if)
Fa’ fi’il
Ta’ fi’il
Huruf mudhoro’ah
mengikuti wazan
يـــــــــــــــــــــــــــــَـــــــــــــــتــَـــــــــــــــــفـَــــــــــــــعّـَــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــلُ
Lam fi’il
Ain fi’il pertama dan kedua(ditadlh’if)
Fa’ fi’il
Ta’ fi’il
Huruf Mudhoro’ah (ya’)

Dibuang
Menjadi
تَفَعَّلُ

تَعَلَّمُ








يُشْتَقُّ فِعْلُ الْأَمْرِ مِنَ الْفِعْلِ الْمُضَارِعِ بِحَذْفِ حَرْفِ الْمُضَارَعَةِ مِنْ أَوَّلِهِ، نَحْوُ : يَتَعَلَّمُ ـــــ تَعَلَّمْ. فَإِذَا كَانَ الْحَرْفُ الَّذِيْ يَلِي حَرْفَ الْمُضَارَعَةِ سَاكِنًا, جِئْ بِهَمْزَةٍ.[6]
Yusytaqqu fi’lu al-mri min al-fi’li al-mudhori’I bihadzfi harfi al-mudhoro’ati min awwalihi, nahwu: yata’allamu-ta’allam. Faidzaa kaana al-harfu al-ladzi yalii harfa al-mudhora’ati sakinan ji’ bihamzatin.
Artinya:
fiil amar berasal dari fiil mudhori’ dengan membuang huruf huruf mudhoroah dari pertama. contoh يَتَعَلَّمُ ـــــ تَعَلَّمْ , jika huruf yang setelah huruf mudhoro’ahnya mati maka berilah hamzah
Jika berasal dari fi’il mudhori’ yang huruf mudlhoro’ah-nya sebelum huruf mati, maka untuk membuat fi’il amar harus di tambahi hamzah.
Ketentuan dalam penambahan hamzah-nya fi’il amar :
a)      Hamzah washol dibaca dhommah jika ain mudhoro’ahnya dibaca dhommah
Contoh  أُكْتُبْ  dari mudhori’ يَكْتُبُ
b)      Diberi hamzah qoth’ yang dibaca fathah jika berasal dari fi’il madhi yang fi’il mudhori’nya berasal dari  fi’il ruba’i  yang diawali hamzah.
Contoh ; أَكْرِمْ  berasal mudhori’ يُكْرِمُ  dari fi’il madlhi أَكْرَمَ
c)      Diberi hamzah washol yang dibaca kasrah apabila tidak memiliki kriteria a) atau b).
Contoh ; إجْلِسْ  berasal dari mudlhori’ يَجْلِسُ  dari madlhi جَلَسَ
Untuk contoh ini ain mudlhori’nya dibaca kasrah, dan bukan berasal dari fi’il mudlhori’ yang madlhinya dari Fi’il Ruba’i yang diawali hamzah.

وَتَكُوْنُ هذِهِ الْهَمْزَةِ :
ü     هَمْزَة وَصْلٍ مَضْمُوْمَة إِذَا كَانَتْ عَيْنُ الْفِعْلِ الْمُضَارِعِ مَضْمُوْمَةً، نَحْو : يَكْتُبُ ــــ أُكْتُبْ
ü     هَمْزَة قَطْعٍ  مَفْتُوْحَة إِذَا كَانَ مَاضِي الْمُضَارِعِ رُبَاعِيًّا مَبْدُوْءًا بِهَمْزَةٍ، أَكْرَمَ، يُكْرِمُ ــــ أَكْرِمْ
ü     هَمْزَة وَصْلٍ مَكْسُوْرَة فِيْ غَيْرِ الْحَالَتَيْنِ السَّابِقَيْنِ، نَحْوُ : يَجْلِسُ ــــ إِجْلِسُ، يَسْتَعْلِمُ ــــ إِسْتَعْلِمْ[7]
Watakunu hadzihi al-hamzati :
ü  Hamzata washlin madlhmumatan idzaa kaanat ‘ainu al-fi’lu al-mudlhori’I madlhmumatan, nahwu: yaktubu-uktub
ü  Hamzata qoth’in maftuhatan idzaa kaana madlhi al-mudlhori’I ruba’iyyan mabdu-an bihamzatin, akroma, yukrimu – akrim
ü  Hamzata washlin maksurotan fi ghoiri al-halataini al-sabiqoini, nahwu: yajlisu-ijlis, yasta’lamu-ista’lim.

artinya
Adapun hamzah ini adalah:
ü  Hamzah washal yang dibaca dhummah ketika ain fiilnya fiil mudhore’ dibaca dhummah, contoh يَكْتُبُ ــــ أُكْتُبْ
ü  Hamzah qoth’ yang dibaca fathah jika sighot madhinya fi’il mudhori’ dari fi’il ruba’i yang diawali dengan hamzah, contoh أَكْرَمَ، يُكْرِمُ ــــ
 أَكْرِمْ      
ü  Hamzah washal yang dibaca kasroh di lain dua keadaan fi’il yang sebelumnya, contoh يَجْلِسُ ــــ إِجْلِسْ، يَسْتَعْلِمُ ــــ إِسْتَعْلِمْ
Catatan  :
Fa’ fi’il amarnya dibuang jika berasal dari fi’il madlhi bina’ mitsal ( Fa’ fi’ilnya berupa huruf ‘illat ) contoh ; عِدْ  berasal dari mudhori’ يَعِدُ  dari madlhi وَعَدَ  .
Fa’ fi’ilnya fi’il amar di buang jika berasal dari bina’ lafif mafruq( ain fi’il dan lam fi’ilnya berupa huruf ‘illat). Contoh  ; فِ  dari mudhori’ يَفِيْ  dari madlhi وَفَى

تُحْذَفُ فَاءُالْمِثَالِ (مَا كَانَتْ فَاءُهُ حَرْفَ الْعِلَّةِ ) فِي الْأَمْرِ، نَحْو: وَعَدَ، يَعِدُ، ـــــ عِدْ. وَتُحْذَفُ فَاءُ اللَّفِيْفِ الْمَفْرُوْقِ (مَا كَانَتْ فَاءُهُ وَلَامُهُ حَرْفَيْ عِلَّةٍ) وَلَامُهُ فِي الْأَمْرِ، نَحْوُ: وَفَي، يَفِيْ، ــــــ فِ. وَقَدْتُزَادُ عَلَيْهِ هَاءُ السَّكْتِ، فَيُقَالُ : فِهْ, عِهْ ( الْأَمْرُ مِنْ وَعَى ).[8]
tuhdzafu fa-u al-Mitsali (ma kaanat fa-uhu harfa al-‘Illati) fi al-amri, nahwu: wa’ada, ya’idu, -‘id. Watuhdzafu fa-u al-Lafifi al-Mafruqi(ma kaanat fa-uhu wa lamuhu harfaiy ‘illatin) wa lamuhu fi al-Amri, nahwu: wafa, yafi, - fi. Wa qod tuzadu ‘alaihi ha-u al-Sakti, fayuqolu: fih, ‘ih ( min wa’a).
artinya:
fa’ fi’il amar dari bina’ mitsal( fi’il yang fa’ fi’ilnya berupa huruf illat) dibuang, contoh وَعَدَ، يَعِدُ، ـــــ عِد. Dan dibuang juga fa’ fi’il amarnya bina’ mafruq( fi’il yang fa’ dan lam fi’ilnya keduanya berupa huruf illat), contoh وَفَي، يَفِيْ، ــــــ فِ.  Dan terkadang ditambahkan ha’ sakt, maka diucapkan فِهْ, عِهْ (amar dari lafadz  وَعَى)
Fi’il Nahi  hanya mempunyai satu shighot yaitu shighot fi’il mudhore’ yang di barengi dengan لا  (la) nahi  yang menjazemkan (لا  yang menunjukkan makna perintah), karena لا(la) nahi merupakan salah satu huruf yang menjazemkan.
وَلَهُ صِيْغَةٌ وَاحِدَةٌ وَهِيَ صِيْغَةُالْمُضَارِعِ الْمَقْرُوْنِ بِـ "لا" النَّاهِيَّةِ الْجَاِزمَةِ، نحو : لاَ تَتَكَاسَلْ.[9]
Wa lahu shighotun waahidatun wa hiya shighotu al-Mudlhori’i al-Maqruni bi “la” al-Nahiyati al-Jaazimati, nahwu: laa tatakaasal.
Artinya:
Fi’il nahi mempunyai satu sighot(bentuk kata) yaitu berupa sighotnya fi’il mudhore’ yang dibarengi dengan la nahi yang menjazemkan.  contoh
 لاَ تَتَكَاسَلْ



Fi’il Mudhori’) fi’il urutan kedua dari tashrifan fi’il).
لا
تتكاسل
لا

C.     Apa hukum-hukum Fi’il Amar dan Fi’il Nahi
Hukum Fi’il Amar  adalah  mabni, sedang  mabninya Fi’il Amar mengikuti Fi’il Mudlhori’ ketika dijazemkan. Dalam arti ketika Fi’il Mudlhori’nya suatu lafadz  itu  dijazemkan dengan  sukun, maka Fi’il Amarnya mempunyai hukum mabni sukun. Dan jika Fi’il Mudlhori’nya dijazemkan dengan hadzfu harfil ‘illat (membuang huruf ‘illat) maka fi’il amarnya mempunyai hukum mabni hadzfi harfil ‘illat.
Macam-macam Mabni dalam Fi’il Amar :
1.      Mabni Sukun
Fi’il Amar mepunyai hukum mabni sukun  jika berasal dari Fi’il Madlhi yang shohih akhir (huruf akhirnya tidak berupa hurufillat), dan tidak bertemu alif tatsniyah (alif yang menunjukkan ma’na dua), wawu jama’ (wawu yang menunjukkan ma’na jama’), ya’ mu’annats mukhothobah (ya’ yang menunjukkan makna perempuan yang diajak bicara), atau bertemu nun jama’ niswah.
Contoh ; إِضْرِبْ, إِضْرِبْنَ  
2.      Mabni Hadzfi Harfil ‘Illat
Jika berasal dari  fi’il mu’tal akhir ( huruf akhirnya berupa huruf ‘illat)
Contoh; إِ سْعَ لِلْخَيْرِ   dari kata إِسْعَى
3.      Mabni Hadzfi Nun
Jika fi’il amarnya bertemu dengan alif tatsniyah, atau wawu jama’, atau ya’ mu’annats mukhothobah.
Contoh
إِدْرِسَا  dari lafadz  إِدْرِسَانِ  (belajarlah kalian berdua).
إِدْرِسُوْا dari lafadz إِدْرِسُوْنَ   ( belajarlah kalian semua).
إِدْرِسِيْ  dari lafadz إِدْرِسِيْنَ  (belajarlah kamu perempuan).

4.      Mabni Fath
Ketika bertemu dengan nun taukid ( nun yang berguna untuk menguatkan ), baik nun taukid tsaqilah atau nun taukid khofifah.
Contoh; إِدْرِسَنَّ, إِدْرِسَنْ                                 
Dalam hukum Fi’il Amar ini sebetulnya terjadi khilaf (perbedaan pendapat) antara antara para ulama’ Basroh ( Bashriyyun) dengan  ulama’ Kufah (Kuffiyyun).
Menurut ulama’ Bashroh “ Fi’il Amar itu hukumnya mabni akan tetapi menurut ulama’ Kufah  bahwa Fi’il Amar itu bukan mabni. Menurut pendapat beliau(ulama’ Kufah) Fi’il Amar dijazemkan oleh  lam amar (lam yang meunjukkan makna perintah) yang muqoddaaroh(dikira-kirakan). Karena menurut para ulama’ Kufah, Fi’il Amar itu sama dengan Fi’il Mudhori’, contoh إِضْرِبْ  , asal kata nya dari لِتَضْرِبْ. Kemudian lam amarnya dibuang  karena takhfif (ringan), kemudian ta’nya dibuang  karena  dikhawatirkan  ada serupa dengan fi’il mudhori’ ketika waqaf, lalu huruf pertamanya diberi hamzah washol maka menjadi إِضْرِبْ.

(تَنْبِيْهٌ) إِخْتَلَفَ الْبَصْرِيُّوْنَ وَالْكُوْفِيُّوْنَ فِي بِنَاءِالْأَمْرِ فَقَالَ الْبَصْرِيُّوْنَ  بِأَنَّهُ مَبْنِيٌّ وَقَالَ الْكُوْفِيُّوْنَ بِأَنَّهُ غَيْرُ مَبْنِيٍّ بَلْ مَجْزُوْمٌ بِلَامِ الْأَمْرِ مُقَدَّرَةٍ لِأَنَّهُ مقتطع عِنْدَهُمْ مِنَ الْمُضَارِعِ فَأَصْلُ إِضْرِبْ عِنْدَهُمْ لِتَضْرِبْ فَخُذِفَتِ اللَّامُ تَخْفِيْفًا ثُمَّ التَّاءُ لِخَوْفِ الْإِلْتِبَاسِ الْأَمْرِ حِيْنَئِذٍ بِالْمُضَارِعِ ثُمَّ أُتِىَ بِهَمْزَةِالْوَصْلِ  فَصَارَ إِضْرِبْ[10]
 (tanbihun) ikhtalaf al-Bashriyyuuna wa al-Kuufiyyuuna fi bina-I al-Amri faqoola al-Bashriyyuna bi-annahu mabniyyun wa qoola al-Kuufiyyuuna bi-annahu ghoiru mabniyyin  bal majzuumun bilaami al-Amri muqoddarotin li-annahi muqtathi’un ‘indahum min al-Mudlhori’i fa-ashlu idlhrib ‘indahum litadlhrib fakhudzifat al-Lamu takhfiifan tsumma al-Ta’u likhoufi al-Iltibasi al-Amri hina-idzin bi al-Mudlhori’i tsumma utiya bihamzati al-Washli fa shooro idlhrib.
Artinya:
Para ulama’ bashrah dan kufah berbeda pendapat dalam masalah bina’nya fiil amar. Para ulama’ bashrah berkata bahwa fiil amar hukumnya mabni, sedangkan para ulama kufah berkata bahwa fiil amar hukumnya bukan mabni melainkan  dijazemkan dengan lam amar yang dikira-kirakan. Menurut beliau(ulama’ kufah)  fi’il amar berasal dari fi’il mudhore’ . jadi asal dari  إِضْرِبْ menurut beliau adalah لِتَضْرِبْ, kemudian lamnya dibuang dengan alasan takhfif(meringankan), kemudian ta’nya dibuang karena takut serupanya fi’il amar dengan fi’il mudhore’, kemudian diberi hamzah washal maka jadilah إِضْرِبْ
 Hukumnya Fi’il Nahi yaitu di baca jazem. sedangkan alamat jazemnya itu ada dua, yaitu :
Sukun dan Khadzfu (buang).
Contoh dibaca Sukun لا تتكاسل
Contoh Khadzfu : Khadzfu Kharfil ‘Illat لا تسع
Khadzfun Nun  لا تتكاسلا  dari  تتكاسلان

D.    Apa ma’na Fi’il Amar dan Fi’il Nahi ?
Ma’na fi’il amar antara lain :
1)      Irsyad (menunjukkan)
Contoh ; لاتَكْذِبُ
2)      Do’a
Contoh ربنا تقبل منّا صلاتنا
3)      Takhyir ( memilih )
Contoh ; تَزَوَّجْ هِنْدًا أَوْ أُخْتَهَا
4)      Ibahah ( memperbolehkan )
Contoh ; كُلُوْا وَاشْرَبُوْا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُّ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ  
5)      Ta’jiz ( melemahkan )
Contoh ;
فَأْتُوْا بِسُوْرَةٍ مِنْ مِثْلِهِ (البقرة :23)
6)      Tahdid (mengancam/menakut-nakuti)
Contoh ; إِعْمَلُوْا مَا شِئْتُمْ إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ ( فصّلت: 40
7)      Tahqir (menghinakan)
Contoh ; خُذُوْا كُحْلًا وَمَجْمَرَةً وَعِطْرًا * فَلَسْتُمْ يَا فَرَزْدَقْ [11]

sedangkan Ma’na fi’il nahi antara lain :
1)      Doa’
;   رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْهَدَيْتَنَا ............. إلخ
2)      Iltimas
لَا تَحْسَبُوْا الْبُعْدَ يُنْسِيْنِيْ مَوَدَّتَكُمْ * هَيْهَاتِ هَيْهَاتِ أَنْ تُنْسِيْنِيْ عَلَى الزَّمَانِ
3)      Tamanni (mengharap sesuatu yang sulit/tak mungkin terjadi)
اَعَيْنَيَّ جُوْدًا وَلَا تَجْمُدا * اَلَا تَبْكِيَان لِصَخْرِالنِّدَا
4)      Irsyad
إِذَا غَامَرْتَ فِيْ شَرَفٍ مَرُوْمٍ * فَلَا تَقْنَعْ بِمَا دُوْنَ النُّجُوْمِ
5)      Tahqir
دَعِ الْمَكَارِمَ لَاتَرْحَلْ لِبُغْيَتِهَا * وَاقْعُدْ فَإِنَّكَ أَنْتَ الطَّاعِمُ الْكَا سِيْ
6)    Taubikh(menjelekken)
لاَ تَنْهَى عَنْ خُلُقٍ وَتَأْ تي مِثْلَهَا * عَارٌ عَلَيْكَ, إِذَا فَعَلْتَ, عَظِيْمٌ
7)      Tay’is (putus asa)
لَاتَطْلُبَنَّ كَرِيْمًا بَعْدَ رُؤْيَتِهِ * إِنَّ الْكِرَامَ بِأَسْخاهم يَدًا خُتِمُوا.[12]














PENUTUP
I.            KESIMPULAN
Ø  Kedua fi’il baik Fi’il amar maupun fi’il nahi adalah sebuah kalimah yang menunjukkan makna perintah, hanya perbedaanya Fi’il Amar menunjukkan makna perintah untuk melakukan pekerjaan yang diperintahkan, sedangkan Fi’il Nahi menunjukkan makna peritah untuk tidak melakukan pekerjaan yang diperintahkan,
Ø Cara membuat  Fi’il Amar yaitu; Fi’il Mudlhori’ huruf mudlhoro’ahnya dibuang, dan diberi hamzah washol jika huruf mudlhoro’ahnya sebelum huruf mati, dan diberi hamzah qoth’ jika berasal dari fi’il madlhi tsulatsi mazid biharfin yang mengikuti wazan أفعل. Untuk Fi’il Nahi cara membuatnya adalah Fi’il Mudhori’ ditambah dengan لا nahi.
Ø  Hukum fi’il amar adalah mabni sedangkan fi’il nahi adalah majzum.

II.            SARAN DAN KRITIK
Selanjutny penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada para pembaca, yang bersedia meluangkan waktunya untuk mengkaji makalah ini. Dan setelah membaca semoga kita diberi ilmu tambahan atas  pengetahuan kita, amiin.
Selain itu penulis juga berharap kepada para pembaca makalah ini, untuk memberikan saran dan kritik jika ada kekurangan dalam makalah. berpartisipasi membantu memperbaiki makalah kami ini. Saran dan










DAFTAR PUSTAKA
Yunus, Mahmud, Kamus ‘Arobi-Indonesia, (Jakarta : PT. Mahmud Yunus Wadzuriyah, 1989), Cet. 8,
Gholayiniyyu, Mustofa, Jami’ al-Durusi al-‘Arabiyyah, (Sedan Bairut ; al-Maktabah al-Ashriyyah, 1987),
Ya’qub, Amil Badi’, Mausu’ah al-Nahwu Wa al-Shorfu Wa al-I’rob, (sarang-rembang ; al-Maktabah al-Anwariyah,TTh),
Baijuriy, Ibrahim, Fathu Robbi al-Bariyyah Ala al-Durroti al-Bahiyyah Nadhmi al-Jurumiyyah, ( Surabaya ; Maktabah “al-Hidayah”, TTh),





                                                                                                                                               


[1] Mahmud yunus, kamus ‘Arobi-Indonesia, (Jakarta : pt. Mahmud Yunus Wadzuriyah, 1989), Cet. 8, Hal. 320.
[2] Ibid, Hal. 48.
[3] Mustofa Gholayiniyyu,  jami’ al-Durusi al-‘Arabiyyah, (Sedan Bairut;al-Maktabah al-Ashriyyah, 1987), hal. 33.
[4] Mahmud Yunus, Op. Cit, hal.472
[5] Amil Badi’ Ya’qub, Mausu’ah al-Nahwu Wa al-Shorfu Wa al-I’rob, (Sarang-Rembang; al-Maktabah al-Anwariyah, TTh), Hal.694
[6] Ibid, hal.490
[7] Ibid.
[8] Ibid
[9] Amil Badi’ Ya’qub, Op. Cit, hal. .694
[10] Ibrahim Baijuriy, Fathu  Robbi al-Bariyyah ala al-Durroti al-Bahiyyah  Nadhmi al-Jurumiyyah, ( Surabaya; Maktabah “al-Hidayah”, tth), hal. 26
[11] Amil Badi’ Ya’qub, Op.Cit,  hal.152
[12] Ibid, hal 694.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar