Kamis, 29 Januari 2015

HUBUNGAN KAUSALITAS DAN PENJELASAN



HUBUNGAN KAUSALITAS DAN PENJELASAN
A.    Pendahuluan
Dalam mempelajari alam, berlaku aksioma yang bahwa peristiwa-peristiwa tidak sekedar ”terjadi”, melainkan  hanya terjadi dibawah kondisi-kondisi yang “mutlak perlu” (necessary) dan kondisi-kondisi yang dianggap ”cukup” (sufficient) bagi terjadinya suatu peristiwa. Suatu “kondisi yang mutlak perlu” bagi terjadinya suatu peristiwa tertentu adalah suatu keadaan yang tanpa kehadiranya, peristiwa tertentu itu tidak dapat terjadi. misalnya : adanya oksigen adalah suatu kondisi yang perlu untuk terjadinya pembakaran (menyala api). Jika terjadi nyala api maka harus ada oksigen, sebab tanpa ada kehadiran oksigen bukanlah suatau kondisi yang cukup bagi terjadinya pembakaran.
Suatu ”kondisi yang cukup” bagi terjadinya suatu peristiwa adalah suatu keadaan yang dalam kehadiranya peristiwa itu harus pasti terjadi. Misalnya  kehadiran oksigen bukanlah  suatu kondisi untuk terjadi kebakaran, karena oksigen dapat hadir tanpa terjadi pembakaran. Dipihak lain pihak, hamper bagi setiap subtansi terdapat suatu derajat temperature sedemikian hingga diatas  temperature itu dalam kehadiran oksigen adalah kondisi yang cukup bagi terjadiya pembakaran subtansi itu. 
Berhubungan hal di atas makalah ini  akan membahas tentang beberapa hal:
1.      Apa Pengertian hubungan kausal
2.      Metode induksi mill
3.      Kekeliruan dalam penalaran kausal
4.      Pengertian penjelasan dan macam-macamnya
Adapun tujuan pembahasn makalah ini adalah :
1.      Untuk mengetahui pengertian hubungan kausal
2.      Untuk mengetahui metode induksi mill
3.      Untuk mengetahui apa penjelasan dan macam-macamnya
4.      Untuk mengetahui apa penjelasan dan macam-macamnyanya
B.     Pembahasan
1.      Hubungan kausalitas
a.       Pengertian
Untuk dapat mengendalikan lingkungan, kita harus memiliki pengetahuan tertentu tentang “hubungan-hubungan kausal” (hubungan sebab-akibat). Begitulah, untuk menyembuhkan suatu penyakit, seorang dokter harus mengetahui apa yang menyebabkanya, dan ia harus mengerti “akibat-akibat” dari obat yang ia berikan. Karena perkataan “sebab“ memiliki beberapa arti, maka kita harus memahami pengertian yang akan digunakan.
Sebab dapat berarti kondisi yang perlu dan dapat berarti ”kondisi yang cukup”. Perkataan sebab digunakan dalam arti ”komdisi yang perlu” jika yang menjadi masalah adalah “hal meniadakan” (mengeliminasi) gejala tertentu yang tidak diinginkan. Untuk meniadakaanya, orang hanya harus mencari kondisi yang diperlukan untuk adanya gejala itu dan kemudian meniadakan kondisi tersebut. Misalnya dokter memberikan obat yang dapat mematikan kuman tertentu. Kuman ini adalah “sebab” (dalam arti kondisi yang perlu) dari penyakit, karena tanpa kehadiran kuman tersebut penyakit itu tidak mungkin ada.[1]
Perkataan sebab juga digunakan sebagai arti ”kondisi yang cukup”, jika kita tidak berminat untuk meniadakan  sesuatu yang tidak diinginkan. Misalnya metalurgi  mencari ‘sebab” dari kekuatan suatu campuran agar dapat menghasilkan suatu jenis logam yang lebih kuat. Proses mencampur, memanaskan dan mendinginkan dikatakan sebagai “sebab” dalam arti kondisi yang cukup dari penguatan, sebab proses demikian sudah cukup untuk menghasilkan campuran yang lebih kuat.menyimpulkan sebab dari akibat hanya dibenarkan dalam pengertian “sebab” sebagai “kondisi yang perlu”, sedangkan penyimpulan dari sebab ke akibat hanya dapat diterima dalam arti kondisi yang cukup. [2] 
Drs. H. mundiri dalam mmberikan pengertian sebab membaginya menjadi sebab yang mesti (necessary) dan sebab yang menjadikan (sufficient Causa)[3] .
Sebab yang mesti adalah suatu keadaan bila tidak ada maka akibatnya tidak akan terjadi tetapi dengan adanya, akibatnya tidak harus terjadi. Oksigen merupakan sebab adanya kebakararan. Tanpa adanya oksigen tidak mungkin kebakaran bisa terjadi. Adapun sebab yang menjadikan adalah suatu yang adanya menyebabkan akibat lahir, sedangkan tidak adanya juga akibat tidak mungkin terlaksana. Dengan kata lain sebab yang menjadikan adalah sesuatu yang ada atau tidaknya menentukan ada dan tidak adanya akibat. Kompor meledak adalah sebab yang mengakibatkan seluruh rumah di gang X menjadi abu. Tetapi kita harus ingat bahwa sebab yang menjadikan dapat terlaksana bila sebab yang mesti juga ada. Meskipun kebakaran seluruh gang itu tidak akan terlaksana. Jadi  meledaknya kompor merupakan sebab yang menjadikan kebakaran.[4]
 Sedangkan sebab yang menjadikan (sufficient causa) yaitu ada dan tidaknya sebab ini akan menentukan ada dan tidaknya akibat.[5] Induksi yang mendasar kepada aksioma sebab bila dirumuskan berbunyi:[6]
1)      Tidak ada sesuatu itu disebut sebab bagi suatu akibat bila ia tidak dijumpai pada saat akibat terjdi
2)      Tidak ada sesuatu itu disebut sebab bagi suatu akibat bila ia dijumpai pada saat akibat tidak terjadi.
b.      Metode Induksi Mill
Dua aksioma  kausalitas diatas merupakan dasar bagi John Stuart Mill (1806-1873) seorang filsuf Inggris untuk merumuskan empat metode induksi yang kemudian terkenal dengan sebutan metode penyimpulan induktif mill. Empat metode tersebut adalah:

1)      Metode persetujuan (method of agreement)
Maksud metode ini adalah apabila ada dua macam peristiwa atau lebih pada gejala yang diselidiki dan masing-masing peristiwa itu mempunyai factor yang sama, maka faktor itu merupakan satu-satunya sebab bagi gejala yang diselidiki.[7]
Misalnya dalam suatu asrama, tiba-tiba seluruh penghuninya terserang berak dan muntah-muntah. Separuh dari mereka diwawancarai untuk menemukan sebab dari malapetaka itu. Mereka ditanya tentang apa yang dimakan hari itu. Mahasiswa pertama menyatakan makan nasi, pisang, telor goteng, kerupuk, bakso dan ayam opor kiriman. Mahasiswa kedua makan nasi pisang, telor pisang, telor goring, bakso, dan ayam opor kiriman. Mahasiswa keempat makan nasi, telor goreng, kerupuk, dan ayam opor kiriman. Mahasiswa kelima dan mahasiswa keenam makan kerupuk, bakso, dan opor ayam kiriman. Bila masing-masing makanan yang dipilih mahasiswa ini kita tuliskan dengan huruf A,B,C,D,E,F maka hasil wawancara ini akan lebih jelas ditampilkan sebagai berikut
Peristiwa
Factor dalam peristiwa
Gejala
1
A, B, C, D, E, F
Berak Dan Muntah- muntah
2
A, B, C, D, -, F
Berak Dan Muntah- muntah
3
-,B, C, - , E, F
Berak Dan Muntah- muntah
4
A, -, C, D, -, F
Berak Dan Muntah- muntah
5
A, B, -, D, E, F
Berak Dan Muntah-muntah
6
, -, -, -, D, E, F
Berak Dan Muntah-muntah

Di sini terlihat gejala yang diselidiki adalah berak dan muntah-muntah,peristiwanya adalah makan dari makan kiriman sedangkan jumlah peristiwanya enam. Dari data tersebut maka akan tersimpulkan bahwa F penyebab berak dan muntah-muntah

2)      Metode Perbedaan
Maksud metode ini adalah “jika sebuah peristiwa mengandung gejala yang diselidiki dan sebuah peristiwa lain yang tidak mengandungnya, namun faktornya sama kecuali satu, dan yang satu itu terdapat pada peristiwa pertama maka factor satu-satunya itu yang menyebabkan peristiwanya berbeda itu adalah factor yang tidak bisa dilepaskan dari sebab terjadinya gejala”.[8]
Contoh untuk metode ini dapat kita kemukakan tentang kerancuan ringan pada asrama mehasiswa sebagaimana yang telah kita sebut. Pada penyelidikan lebih lanjut ternyata mahasiswa yang tidak makan opor ayam kiriman tidak terkena muntah dan berak.
3)      Metode Persamaan Variasi
Maksud metode ini adalah : “apabila suatu gejala yang dengan sesuatu cara berubah ketika gejala lain berubah dengan cara tertentu, maka gejala itu adalah sebab atau akibat dari gejala lain, atau berhubungan secara sebab akibat”.[9]
Contoh dan penerapan metode ini adalah berhubungan panas dengan air raksa pada barometer. Panas itu menimbulkan kenaikan air raksa. Kenaikan air raksa mempunyai variasi panas itu.  Maka air raksa dengan panas itu mempunyai hubungan sebab akibat.
Sebab
Akibat
ABC
Abc
A+BC
a+bc
A-BC
a-bc
 Jadi A mempunyai hubungan kausal a.
Dalam kehidupan sehari-hari; seorang petani dapat mengetahui dengan mudah hubungan kausalitas antara kesuburan tanah dengan hasil pertanian. Semkin tinggi derajat kesuburan tanah semakin bagus hasil panen dan demikian juga sebaliknya.
Metode variasi sangat pentig dalam penyelidikan induktif yang bersifat kuantitatif, mendahului bersifat kualitatif. Gunanya adalah sebagai peramal dalam mengukur dan menduga, meskipun secara kasar, atas perilaku yang mempunyai feomena yang berfariasi.[10]
4)      Metode Sisasisihan
Jika ada peristiwa dalam keadaan tertentu dan keadaan tertentu ini menjadi akibat dari faktor yang mendahuluinya, maka sisa akibat yang terdapat pada peristiwa itu pasti disebabkan oleh faktor lain
Sebab
Akibat
A B C
A b c
B diketahui penyebab dari b

C diketahui penyebab dari c

Contoh  dalam penemuan planet Neptunus, pada tahun 1846. Penemuan ini sebagai akibat perhitungan terhadap orbit planet Uranus. Perhitungan  terhadap orbit Uranus ini berdasarkan atas akibat yang telah diketahui dan akibat ini berasal dari sebab yang dimiliki oleh planet-planet yang sudah diketahui. Tetapi ternyata ditemui perbedaan antara orbit yang diperhitungkan dengan orbit yang disaksikan melalui teleskop. Timbul pendapat bahwa tentu ada planet lain yang menjadi sebab bagi sisa akibat itu. Berdasarkan dugaan itu maka adams dari Cambridge dan leverrier dari perancis bekerja sama menetapkan posisi planet lain yang menyebabkan gangguan  terhadap orbit Uranus. Pada tanggal 223 septmber 1846 Dr. Gill dari Royal Academy Of Berlin mengarahkan teleskop kea rah posisi planet pengganggu yang telah diperhitungkan dan dalam tempo setengah jam saja ditemukan planet baru yaitu planet Neptunus.[11]
5)      Metode gabungan persetujuan dan perbedaan
Jika dua atau lebih kejadian yang didalamnya gejala itu terjadi mempunyai hanya satu keadaan yang sama, sedangkan dua atau lebih kejadian yang didalamnya ia tidak terjadi tidak mempunyai sesuatu apapun yang sama kecuali ketidakadaan keadaan itu, maka keadaan yang hanya didalamnya kedua kelompok kejadian itu berbeda adalah akibat, atau sebab, atau suatu bagian yang tidak terpisahkan dari sebab, dari gejala itu.[12]
Sedangkan mundiri berpendapat:
“ Jika ada sekumpulan peristiwa  dalam gejala tertentu hanya memiliki sebuah factor yang bersamaan, sedangkan dalam beberapa peristiwa dimana gejala itu tidak terjadi, digejala itu terjadi kecuali sebuah factor yang bersamaan, maka faktor ini merupakan faktor yang mempunyai huungan kausal dengan gejala itu ”.[13]
Sebab
Akibat
A B C
a b c
A D E
a d e
A B C
a b c
   B C
    b  c
Jadi A adalah bagian yang tidak terpisahkan dari penyeab timbulnya a
Jika Menggunakan metode ini akan menghasilkan konklusi yang lebih kuat dibandingkan jika kita menggunakan metode itu secara terpisah. Contoh lain tentang penerapan metode ini adalah apa yang dilakukan oleh Eijkman:
Eijkman memberi makan pada sekelompok ayam dengan beras yang betul-betul putih. Ternyata ayam itu kesemuanya terserang polyneuritis (radang saraf) dan sebagian besar mati. Ia member makan kepada sekolompok  ayam yang lain dengan beras yang masih bercampur dedak. Ternyata tidak satu ayampun ini sakit. Kemudian ia mengumpulkan ayam-ayam yang terkena radang saraf dengan ayam yang sehat ini dan diberi makan beras yang bercampur dedak. Ayam-ayam yang sakit itu kemudian sembuh.[14]
c.       Kekeliruan Dalam Penalaran Kausalitas
Kekeliruan yang sering terjadi dikalangan orang-orang yang kurang cermat berpikir adalah post hoc propter hoc artinya sesuatu penalaran yag menyatakan bahwa ini terjadi sesudah itu terjadi maka ini merupakan akibat dari itu. Dengan kata lain sesuatu kekeliruan karena mengakui sesuatau yang terjadi berurutan maka peristiwa yang kedua merupakan akibat dari peristiwa pertama atau membuktikan hubungan sebab akibat suatu peristiwa tentu tidak sekedar menyimpulkan bahwa peristiwa kedua merupakan akibat yang pertama. Contoh kasar dari cara penalaran ini adalah :
Sesudah ayam berkokok maka terbitlah siang. Jadi siang terbit karena ayam berkokok.
Setelah ia bermalam disini pabrik ini kecurian setengah milyar. Karena itu pastilah dia pencurinya.[15]
2.      Penjelasan
a.       Pengertian
Penjelasan adalah sekelompok proposisi yang menerangkan suatu fakta, dengan keterangan itu dapat disimpulkan secara logis sehingga problematika atau keraguan yang menyelubungi fakta itu dapat dihilangkan.[16]
Penjelasan itu harus dapat ditarik daripadanya konklusi yang logis, maka penjelasan ats suatu fakta akan bisa lebih kuat dari lainya. Untuk menilai kuat dan tidaknya suatu penjelasan adalah relevansinya dengan fakta lain.
Penjelasan di bagi dua: yaitu penjelasan ilmiah dan penjelasan tidak ilmiah. Penjelasan ilmiah adalah ketrerangna yang dapat dibuktikan secara logis maupun inderawi. Andaikata pegawai tadi menjelaskan bahwa keterlambatannya disebabkan bis yang dinaikinya mengalami kerusakan dan tidak ada kendaraan lain yang mungkin dinaikinya, sehingga ia harus menunggu satu jam dijalan sementara bis diperbaiki, maka keterangan yang demikian ini adalah ilmiah. Dikatakan demikian karena keterangna ini oleh majikanya dapat dibuktikan apakah ia dusta atau berbicara sebenarnya. Si majikan dapat menanyakan kepada pemilik perusahaan bis tersebut melalui telepon apakah benar bis rute itu pada jam itu mengalami kerusakan. Meskipun jawaban yang didapat dari pemilik perusahaan bis tadi tidak sepenuhnya dapat dipakai untuk menentukan bohong tidaknya pegawai tadi, misalnya laporan tentang kerusakan bis belum ia terima, atau mungkin dia bohong bahwa bisnyaselalu siap demi menjaga langganan, tetapi toh keterangna yang  diberikan oleh pegawai tadi memungkinkan seseorang untuk membuktikanya.[17]
Suatau penjelasan atau keterangan dikatakan tidak ilmiah pertama karena penjelasanya tidak relevan dengan permasalahanya dan kedua bila penjelasanya tidak mungkin dibuktikan. Bila sipegawai tadi menerangkan bahwa keterlambatanya karena sedang terjadi kelaparan di india atau karenba peswat terbang korea ditembak uni soviet, maka penjelasan ini tidak ada relevansinya dengan pokok masalah, sebab ia tinggal di Indonesia.[18]
b.      Macam-macam Penjelasan
Ada empat cara untuk menerangkan fakta, yaitu:
1)      Menjelaskan berdasarkan bagianya atau faktornya
Menjelaskan berdasarkan bagian-bagianya atau factor-faktornya adalah cara menjelaskan dimana kita menganalisa sesuatu berdasarkan unsure-unsur pokok suatu kenyataan serta hubungan pastinya antara masing-masing unsure-unsur pokok itu.
Anak-anak, orang-orang primitif dan sebagian manusia yang hiduyp sekarang ini, meskipun dalam masyarakat yang beradab, puas mendapatkan sesuatau sebagaimana adanya. Mereka tidak mempunyai keinginan untyuk mengetahui tentang komposisi dan struktur barang-barang, atau tentang caa bagaimana sesuatu itu bekerja.adalah nyata bahwa anak-anak kecil segera membongkar mainanya untuk mengetahui apa yang ada didalamnya, dari apa dibuat, tetapi mengetahui bagaimana strukturnya adalah jauh berbeda dari sekedar mengetahui apa yang ada di dalamnya. Keinginan untuk mengetahui struktur dan komposisi dan atau serta bagaimana  hubungan antara bagian-bagian itu secara keseluruhan bukanlah keinginan yang timbul mula-mula di dalam perkembangan mental, baik individual maupun bangsa-bangsa. Ini bisa kita lihat bagaimana sikap menerima apa adanya dan tidak adanya sikap ingin mengerti pada orang primitive tentang barang-barang dilingkunganya, sama seperti umumnya para pengendara mobil wanita tentang apa yang ada dalam tutp mesin mobilnya.[19]
2)      Penjelasan berdasarkan keadaan  dan kondisi
Adalah cara menerangkan sesuatu berdasarkan hubungan sesuatu dengan sesuatu yang lain dengan keadaan diluar dirinya, untyuk mengetahui bagaimana suatu fakta pertikular melahirkan dan bergantung terhadap factor lainya dalam susunan yang lebih besar dan bagaimana suatu fakta tidak akan muncul kecuali dalam keadaan tertentu.[20]
Macam penjelasan ini berbeda dengan yang pertama karena sekarang kita hendak mencari bagaimana hubungan sesuatu dengan sesuatu diluar dirinya. Orang primitif menganggap bahwa sesuatu itu adalah sempurna dirinya tanpa berhubungan dengan sesuatu yang lain. Mereka tidak mengenal bahwa sesuatu itu merupakan komponen, bagian, anakan dari suatu system yang lebih besar. Mereka tidak pernah melihat dunia ini sebagai suatu keseluruhan. Bagi mereka, seseuatu itu merupakan potongan-potongan wuud yang terlepas, yang keadaanya tidak berkaitan atau berhubungan denagnyang lainya, dengan kata lain mereka memandang dunia ini terdiri dari sesuatu yang terpisah-pisah, sesuatu yang berdiri sendiri yang berhubungan antara satu dengan lainya hanya merupakan kebetulan.
3)      Menjelaskan berdasarkan hubungan sebsb-akibat
Sejauh ini kita telah memcarakan dua macam crara menerangkan , tetapi sejauh ini kita masih mencari hubungan antara dua fakta dalam waktu yang bersamaan. Sedangkan kita dapat juga menjumpai hubungan dua buah fakta atau atau lebih dalam waktu yang berurutan, antara fakta-fakta yang secara tetap terjadi lebih dahulu dan diikuti oleh fakta lainya pada waktu yang lebih kemudian.
Kita menyadari bahwa tidak ada suatu peristiwa terjadi secara kebetulan. Ada suatu susunan yang konsisten yang melahirkan adanya peristiwa-peristiwa itu didalam perjalanan waktu. Kita telah lama menyadari bahwa bahwa apabila dalam suatu kondisi tertentu yang melahirkan peristiwa yang terjadi kemudian adalah merupakan suatu yang esensial yang kemudian kita sebut “sebab”. Sedangkan peristiwa yang terjadi kemudian yang secara tetap muncul manakala kondisi tertentu terlaksana kita sebut “akibat”. Cara menjelaskan berdasarkan bagaimana suatu peristiwa itu terjadi dengan melihat kondisi yang menyebabkan  lahirnya peristiwa itu adalah cara menerangkan berdasarkan sebab-akibat.[21]
4)      Cara menjelaskan berdasarkan fungsinya
Adalah cara menjelaskan suatu fakta bagaimana sesuatu itu mmempunyai kedudukan terhadap fakta atau peristiwa lain. Macam penjelasan ini berbeda dengan macam sebelumnya karena di sini bukan bagaimana fakta lain mempunyai hubungan yang pasti terhadap suatu fakta tertentu, melainkan bagaimana suatu fakta tertentu itu memegang peranan bagi fakta lainya.
Cara penjelasan ini kita gunakan misalnya bila kita hendak menerangkan tentang benda-benda hidup dan fakta-fakta yang terkait denganya. Kita dapat menggunakan macam penjelasan ini manakala kita ingin menerangkan hidung yang kita miliki papa fungsinya, juga tentang fungsi dari lebah madu bagi bunga, tentang music bagi jiwa dan raga manusia, tentang klorofil bagi tumbuhan, tentang presiden bagi pemerintahan, tentang matahari bagi kehidupan, tentang jantung bagi tubuh manusia.
C.     Penutup
Dari pembahasan, Dapat ditarik kesimpulan
1.      Hubungan kausalitas merupakan konsep penalaran berdasarkan adanya hubungan sebab akibat.
2.      Untuk mendapatkan sebuah kesimpulan kejadian, bisa menggunakan metode penyimpulan atau metode indukksi mill
3.      Kekeliruan dalam menyimpulkan sebab akibat biasa terjadi pada ketika suatu kesimpulan selalu didasarkan atas kejadian yang saling berurutan.
4.      Penjelasan adalah sekelompok proposisi yang menerangkan suatu fakta secara logis














DAFTAR PUSTAKA
Sidharta, Arief Pengantar Ligika, Subuah Langkah-Langkah Pertama Pengenalan Medan Talaah, Bandung; PT Refika Aditama, 2010, Cet. Ketiga.
Mundiri, logika, Jakarta,; PT Rajagrafindo Persada, 1994, cet.1.
Joesoef Sou’yb, Pelajaran Logika, Medan; Intisari, 1966.
Irving M. Copi, Introduction To Logic, New York; Macmillan Publishing, 1978.



[1] Arief Sidharta, Pengantar Ligika, Subuah Langkah-Langkah Pertama Pengenalan Medan Talaah, (Bandung; PT Refika Aditama, 2010), Cet. Ketiga, hal.81
[2] Ibid, hal. 82
[3] Mundiri, logika, (Jakarta,; PT Rajagrafindo Persada, 1994), cet.1, hal.172
[4] Mundiri, ibid, hal. 172
[5] Mundiri, ibid, hal. 173
[6] Joesoef sou’yb, Pelajaran Logika, (Medan; Intisari, 1966), hal.226
[7] Mundiri, op.cit, hal. 174
[8] Ibid, hal 176
[9] Ibid, hal.178
[10] Ibid, hal.180
[11] Yoesoef sou’yb, op.cit, hal. 228
[12] Arief shidarta, Op.Cit, hal91
[13] Mundiri, Op.Cit, hal 181
[14] Irving M. copi, Introduction To Logic, (New York, Macmillan Publishing, 1978), hal. 416
[15] Mundiri, op.cit, 182
[16] Irving M. Copi, op.cit. 461
[17] Ibid, hal.188
[18] Ibid, hal.189
[19] Ibid, hal.190
[20] Ibid, hal.192
 [21] Ibid, 194-195

Tidak ada komentar:

Posting Komentar