HUBUNGAN KAUSALITAS DAN PENJELASAN
A.
Pendahuluan
Dalam mempelajari alam, berlaku aksioma yang bahwa
peristiwa-peristiwa tidak sekedar ”terjadi”, melainkan hanya terjadi dibawah kondisi-kondisi yang
“mutlak perlu” (necessary) dan kondisi-kondisi yang dianggap ”cukup” (sufficient)
bagi terjadinya suatu peristiwa. Suatu “kondisi yang mutlak perlu” bagi terjadinya
suatu peristiwa tertentu adalah suatu keadaan yang tanpa kehadiranya, peristiwa
tertentu itu tidak dapat terjadi. misalnya : adanya oksigen adalah suatu
kondisi yang perlu untuk terjadinya pembakaran (menyala api). Jika terjadi
nyala api maka harus ada oksigen, sebab tanpa ada kehadiran oksigen bukanlah
suatau kondisi yang cukup bagi terjadinya pembakaran.
Suatu ”kondisi yang cukup” bagi terjadinya suatu peristiwa adalah
suatu keadaan yang dalam kehadiranya peristiwa itu harus pasti terjadi.
Misalnya kehadiran oksigen bukanlah suatu kondisi untuk terjadi kebakaran, karena
oksigen dapat hadir tanpa terjadi pembakaran. Dipihak lain pihak, hamper bagi
setiap subtansi terdapat suatu derajat temperature sedemikian hingga
diatas temperature itu dalam kehadiran
oksigen adalah kondisi yang cukup bagi terjadiya pembakaran subtansi itu.
Berhubungan hal di atas makalah ini
akan membahas tentang beberapa hal:
1.
Apa
Pengertian hubungan kausal
2.
Metode
induksi mill
3.
Kekeliruan
dalam penalaran kausal
4.
Pengertian
penjelasan dan macam-macamnya
Adapun tujuan pembahasn makalah ini adalah :
1.
Untuk
mengetahui pengertian hubungan kausal
2.
Untuk
mengetahui metode induksi mill
3.
Untuk
mengetahui apa penjelasan dan macam-macamnya
4.
Untuk
mengetahui apa penjelasan dan macam-macamnyanya
B.
Pembahasan
1.
Hubungan
kausalitas
a.
Pengertian
Untuk
dapat mengendalikan lingkungan, kita harus memiliki pengetahuan tertentu
tentang “hubungan-hubungan kausal” (hubungan sebab-akibat). Begitulah, untuk
menyembuhkan suatu penyakit, seorang dokter harus mengetahui apa yang
menyebabkanya, dan ia harus mengerti “akibat-akibat” dari obat yang ia berikan.
Karena perkataan “sebab“ memiliki beberapa arti, maka kita harus memahami
pengertian yang akan digunakan.
Sebab
dapat berarti kondisi yang perlu dan dapat berarti ”kondisi yang cukup”.
Perkataan sebab digunakan dalam arti ”komdisi yang perlu” jika yang menjadi
masalah adalah “hal meniadakan” (mengeliminasi) gejala tertentu yang
tidak diinginkan. Untuk meniadakaanya, orang hanya harus mencari kondisi yang
diperlukan untuk adanya gejala itu dan kemudian meniadakan kondisi tersebut.
Misalnya dokter memberikan obat yang dapat mematikan kuman tertentu. Kuman ini
adalah “sebab” (dalam arti kondisi yang perlu) dari penyakit, karena tanpa
kehadiran kuman tersebut penyakit itu tidak mungkin ada.[1]
Perkataan
sebab juga digunakan sebagai arti ”kondisi yang cukup”, jika kita tidak
berminat untuk meniadakan sesuatu yang
tidak diinginkan. Misalnya metalurgi
mencari ‘sebab” dari kekuatan suatu campuran agar dapat menghasilkan
suatu jenis logam yang lebih kuat. Proses mencampur, memanaskan dan
mendinginkan dikatakan sebagai “sebab” dalam arti kondisi yang cukup dari
penguatan, sebab proses demikian sudah cukup untuk menghasilkan campuran yang
lebih kuat.menyimpulkan sebab dari akibat hanya dibenarkan dalam pengertian
“sebab” sebagai “kondisi yang perlu”, sedangkan penyimpulan dari sebab ke
akibat hanya dapat diterima dalam arti kondisi yang cukup. [2]
Drs.
H. mundiri dalam mmberikan pengertian sebab membaginya menjadi sebab yang mesti
(necessary) dan sebab yang menjadikan (sufficient Causa)[3]
.
Sebab
yang mesti adalah suatu keadaan bila tidak ada maka akibatnya tidak akan terjadi
tetapi dengan adanya, akibatnya tidak harus terjadi. Oksigen merupakan
sebab adanya kebakararan. Tanpa adanya oksigen tidak mungkin kebakaran
bisa terjadi. Adapun sebab yang menjadikan adalah suatu yang adanya menyebabkan
akibat lahir, sedangkan tidak adanya juga akibat tidak mungkin terlaksana.
Dengan kata lain sebab yang menjadikan adalah sesuatu yang ada atau tidaknya
menentukan ada dan tidak adanya akibat. Kompor meledak adalah sebab yang
mengakibatkan seluruh rumah di gang X menjadi abu. Tetapi kita harus ingat
bahwa sebab yang menjadikan dapat terlaksana bila sebab yang mesti juga ada.
Meskipun kebakaran seluruh gang itu tidak akan terlaksana. Jadi meledaknya kompor merupakan sebab yang
menjadikan kebakaran.[4]
Sedangkan sebab yang menjadikan (sufficient
causa) yaitu ada dan tidaknya sebab ini akan menentukan ada dan tidaknya
akibat.[5]
Induksi yang mendasar kepada aksioma sebab bila dirumuskan
berbunyi:[6]
1)
Tidak
ada sesuatu itu disebut sebab bagi suatu akibat bila ia tidak dijumpai pada
saat akibat terjdi
2)
Tidak
ada sesuatu itu disebut sebab bagi suatu akibat bila ia dijumpai pada saat
akibat tidak terjadi.
b.
Metode
Induksi Mill
Dua aksioma kausalitas diatas merupakan dasar bagi
John Stuart Mill (1806-1873) seorang filsuf Inggris untuk merumuskan empat
metode induksi yang kemudian terkenal dengan sebutan metode penyimpulan
induktif mill. Empat metode tersebut adalah:
1)
Metode
persetujuan (method of agreement)
Maksud
metode ini adalah apabila ada dua macam peristiwa atau lebih pada gejala yang
diselidiki dan masing-masing peristiwa itu mempunyai factor yang sama, maka faktor
itu merupakan satu-satunya sebab bagi gejala yang diselidiki.[7]
Misalnya
dalam suatu asrama, tiba-tiba seluruh penghuninya terserang berak dan
muntah-muntah. Separuh dari mereka diwawancarai untuk menemukan sebab dari
malapetaka itu. Mereka ditanya tentang apa yang dimakan hari itu. Mahasiswa
pertama menyatakan makan nasi, pisang, telor goteng, kerupuk, bakso dan ayam
opor kiriman. Mahasiswa kedua makan nasi pisang, telor pisang, telor goring,
bakso, dan ayam opor kiriman. Mahasiswa keempat makan nasi, telor goreng,
kerupuk, dan ayam opor kiriman. Mahasiswa kelima dan mahasiswa keenam makan
kerupuk, bakso, dan opor ayam kiriman. Bila masing-masing makanan yang dipilih
mahasiswa ini kita tuliskan dengan huruf A,B,C,D,E,F maka hasil wawancara ini
akan lebih jelas ditampilkan sebagai berikut
|
Peristiwa
|
Factor
dalam peristiwa
|
Gejala
|
|
1
|
A,
B, C, D, E, F
|
Berak
Dan Muntah- muntah
|
|
2
|
A,
B, C, D, -, F
|
Berak
Dan Muntah- muntah
|
|
3
|
-,B,
C, - , E, F
|
Berak
Dan Muntah- muntah
|
|
4
|
A,
-, C, D, -, F
|
Berak
Dan Muntah- muntah
|
|
5
|
A,
B, -, D, E, F
|
Berak Dan
Muntah-muntah
|
|
6
|
,
-, -, -, D, E, F
|
Berak Dan Muntah-muntah
|
Di sini terlihat
gejala yang diselidiki adalah berak dan muntah-muntah,peristiwanya adalah makan
dari makan kiriman sedangkan jumlah peristiwanya enam. Dari data tersebut maka
akan tersimpulkan bahwa F penyebab berak dan muntah-muntah
2)
Metode
Perbedaan
Maksud
metode ini adalah “jika sebuah peristiwa mengandung gejala yang diselidiki dan
sebuah peristiwa lain yang tidak mengandungnya, namun faktornya sama kecuali
satu, dan yang satu itu terdapat pada peristiwa pertama maka factor
satu-satunya itu yang menyebabkan peristiwanya berbeda itu adalah factor yang
tidak bisa dilepaskan dari sebab terjadinya gejala”.[8]
Contoh
untuk metode ini dapat kita kemukakan tentang kerancuan ringan pada asrama
mehasiswa sebagaimana yang telah kita sebut. Pada penyelidikan lebih lanjut
ternyata mahasiswa yang tidak makan opor ayam kiriman tidak terkena muntah dan
berak.
3)
Metode
Persamaan Variasi
Maksud
metode ini adalah : “apabila suatu gejala yang dengan sesuatu cara berubah
ketika gejala lain berubah dengan cara tertentu, maka gejala itu adalah sebab
atau akibat dari gejala lain, atau berhubungan secara sebab akibat”.[9]
Contoh
dan penerapan metode ini adalah berhubungan panas dengan air raksa pada
barometer. Panas itu menimbulkan kenaikan air raksa. Kenaikan air raksa
mempunyai variasi panas itu. Maka air
raksa dengan panas itu mempunyai hubungan sebab akibat.
|
Sebab
|
Akibat
|
|
ABC
|
Abc
|
|
A+BC
|
a+bc
|
|
A-BC
|
a-bc
|
Jadi A mempunyai hubungan kausal a.
Dalam
kehidupan sehari-hari; seorang petani dapat mengetahui dengan mudah hubungan kausalitas
antara kesuburan tanah dengan hasil pertanian. Semkin tinggi derajat kesuburan
tanah semakin bagus hasil panen dan demikian juga sebaliknya.
Metode
variasi sangat pentig dalam penyelidikan induktif yang bersifat
kuantitatif, mendahului bersifat kualitatif. Gunanya adalah sebagai
peramal dalam mengukur dan menduga, meskipun secara kasar, atas perilaku yang
mempunyai feomena yang berfariasi.[10]
4)
Metode
Sisasisihan
Jika
ada peristiwa dalam keadaan tertentu dan keadaan tertentu ini menjadi akibat
dari faktor yang mendahuluinya, maka sisa akibat yang terdapat pada peristiwa
itu pasti disebabkan oleh faktor lain
|
Sebab
|
Akibat
|
|
A
B C
|
A
b c
|
|
B
diketahui penyebab dari b
|
|
|
C
diketahui penyebab dari c
|
|
Contoh dalam penemuan planet Neptunus, pada tahun
1846. Penemuan ini sebagai akibat perhitungan terhadap orbit planet Uranus. Perhitungan terhadap orbit Uranus ini berdasarkan atas
akibat yang telah diketahui dan akibat ini berasal dari sebab yang dimiliki
oleh planet-planet yang sudah diketahui. Tetapi ternyata ditemui perbedaan
antara orbit yang diperhitungkan dengan orbit yang disaksikan melalui teleskop.
Timbul pendapat bahwa tentu ada planet lain yang menjadi sebab bagi sisa akibat
itu. Berdasarkan dugaan itu maka adams dari Cambridge dan leverrier dari
perancis bekerja sama menetapkan posisi planet lain yang menyebabkan
gangguan terhadap orbit Uranus. Pada
tanggal 223 septmber 1846 Dr. Gill dari Royal Academy Of Berlin mengarahkan
teleskop kea rah posisi planet pengganggu yang telah diperhitungkan dan dalam
tempo setengah jam saja ditemukan planet baru yaitu planet Neptunus.[11]
5)
Metode
gabungan persetujuan dan perbedaan
Jika
dua atau lebih kejadian yang didalamnya gejala itu terjadi mempunyai hanya satu
keadaan yang sama, sedangkan dua atau lebih kejadian yang didalamnya ia tidak
terjadi tidak mempunyai sesuatu apapun yang sama kecuali ketidakadaan keadaan
itu, maka keadaan yang hanya didalamnya kedua kelompok kejadian itu berbeda
adalah akibat, atau sebab, atau suatu bagian yang tidak terpisahkan dari sebab,
dari gejala itu.[12]
Sedangkan
mundiri berpendapat:
“ Jika ada
sekumpulan peristiwa dalam gejala
tertentu hanya memiliki sebuah factor yang bersamaan, sedangkan dalam beberapa
peristiwa dimana gejala itu tidak terjadi, digejala itu terjadi kecuali sebuah
factor yang bersamaan, maka faktor ini merupakan faktor yang mempunyai huungan
kausal dengan gejala itu ”.[13]
|
Sebab
|
Akibat
|
|
A
B C
|
a
b c
|
|
A
D E
|
a
d e
|
|
A
B C
|
a
b c
|
|
B C
|
b
c
|
Jadi A adalah
bagian yang tidak terpisahkan dari penyeab timbulnya a
Jika
Menggunakan metode ini akan menghasilkan konklusi yang lebih kuat
dibandingkan jika kita menggunakan metode itu secara terpisah. Contoh lain
tentang penerapan metode ini adalah apa yang dilakukan oleh Eijkman:
Eijkman
memberi makan pada sekelompok ayam dengan beras yang betul-betul putih.
Ternyata ayam itu kesemuanya terserang polyneuritis (radang saraf) dan
sebagian besar mati. Ia member makan kepada sekolompok ayam yang lain dengan beras yang masih
bercampur dedak. Ternyata tidak satu ayampun ini sakit. Kemudian ia
mengumpulkan ayam-ayam yang terkena radang saraf dengan ayam yang sehat ini dan
diberi makan beras yang bercampur dedak. Ayam-ayam yang sakit itu kemudian
sembuh.[14]
c.
Kekeliruan
Dalam Penalaran Kausalitas
Kekeliruan
yang sering terjadi dikalangan orang-orang yang kurang cermat berpikir adalah post
hoc propter hoc artinya sesuatu penalaran yag menyatakan bahwa ini terjadi
sesudah itu terjadi maka ini merupakan akibat dari itu. Dengan kata lain
sesuatu kekeliruan karena mengakui sesuatau yang terjadi berurutan maka
peristiwa yang kedua merupakan akibat dari peristiwa pertama atau membuktikan
hubungan sebab akibat suatu peristiwa tentu tidak sekedar menyimpulkan bahwa
peristiwa kedua merupakan akibat yang pertama. Contoh kasar dari cara penalaran
ini adalah :
Sesudah ayam
berkokok maka terbitlah siang. Jadi siang terbit karena ayam berkokok.
Setelah ia
bermalam disini pabrik ini kecurian setengah milyar. Karena itu pastilah dia
pencurinya.[15]
2.
Penjelasan
a.
Pengertian
Penjelasan
adalah sekelompok proposisi yang menerangkan suatu fakta, dengan
keterangan itu dapat disimpulkan secara logis sehingga problematika atau
keraguan yang menyelubungi fakta itu dapat dihilangkan.[16]
Penjelasan itu
harus dapat ditarik daripadanya konklusi yang logis, maka penjelasan ats suatu
fakta akan bisa lebih kuat dari lainya. Untuk menilai kuat dan tidaknya suatu
penjelasan adalah relevansinya dengan fakta lain.
Penjelasan
di bagi dua: yaitu penjelasan ilmiah dan penjelasan tidak ilmiah. Penjelasan
ilmiah adalah ketrerangna yang dapat dibuktikan secara logis maupun inderawi.
Andaikata pegawai tadi menjelaskan bahwa keterlambatannya disebabkan bis yang
dinaikinya mengalami kerusakan dan tidak ada kendaraan lain yang mungkin
dinaikinya, sehingga ia harus menunggu satu jam dijalan sementara bis
diperbaiki, maka keterangan yang demikian ini adalah ilmiah. Dikatakan demikian
karena keterangna ini oleh majikanya dapat dibuktikan apakah ia dusta atau
berbicara sebenarnya. Si majikan dapat menanyakan kepada pemilik perusahaan bis
tersebut melalui telepon apakah benar bis rute itu pada jam itu mengalami
kerusakan. Meskipun jawaban yang didapat dari pemilik perusahaan bis tadi tidak
sepenuhnya dapat dipakai untuk menentukan bohong tidaknya pegawai tadi,
misalnya laporan tentang kerusakan bis belum ia terima, atau mungkin dia bohong
bahwa bisnyaselalu siap demi menjaga langganan, tetapi toh keterangna yang diberikan oleh pegawai tadi memungkinkan
seseorang untuk membuktikanya.[17]
Suatau
penjelasan atau keterangan dikatakan tidak ilmiah pertama karena penjelasanya
tidak relevan dengan permasalahanya dan kedua bila penjelasanya tidak mungkin
dibuktikan. Bila sipegawai tadi menerangkan bahwa keterlambatanya karena sedang
terjadi kelaparan di india atau karenba peswat terbang korea ditembak uni
soviet, maka penjelasan ini tidak ada relevansinya dengan pokok masalah, sebab
ia tinggal di Indonesia.[18]
b.
Macam-macam
Penjelasan
Ada empat cara
untuk menerangkan fakta, yaitu:
1)
Menjelaskan
berdasarkan bagianya atau faktornya
Menjelaskan
berdasarkan bagian-bagianya atau factor-faktornya adalah cara menjelaskan
dimana kita menganalisa sesuatu berdasarkan unsure-unsur pokok suatu kenyataan
serta hubungan pastinya antara masing-masing unsure-unsur pokok itu.
Anak-anak,
orang-orang primitif dan sebagian manusia yang hiduyp sekarang ini, meskipun
dalam masyarakat yang beradab, puas mendapatkan sesuatau sebagaimana adanya.
Mereka tidak mempunyai keinginan untyuk mengetahui tentang komposisi dan
struktur barang-barang, atau tentang caa bagaimana sesuatu itu bekerja.adalah
nyata bahwa anak-anak kecil segera membongkar mainanya untuk mengetahui apa
yang ada didalamnya, dari apa dibuat, tetapi mengetahui bagaimana strukturnya
adalah jauh berbeda dari sekedar mengetahui apa yang ada di dalamnya. Keinginan
untuk mengetahui struktur dan komposisi dan atau serta bagaimana hubungan antara bagian-bagian itu secara
keseluruhan bukanlah keinginan yang timbul mula-mula di dalam perkembangan
mental, baik individual maupun bangsa-bangsa. Ini bisa kita lihat bagaimana
sikap menerima apa adanya dan tidak adanya sikap ingin mengerti pada orang
primitive tentang barang-barang dilingkunganya, sama seperti umumnya para
pengendara mobil wanita tentang apa yang ada dalam tutp mesin mobilnya.[19]
2)
Penjelasan
berdasarkan keadaan dan kondisi
Adalah
cara menerangkan sesuatu berdasarkan hubungan sesuatu dengan sesuatu yang lain
dengan keadaan diluar dirinya, untyuk mengetahui bagaimana suatu fakta
pertikular melahirkan dan bergantung terhadap factor lainya dalam susunan yang
lebih besar dan bagaimana suatu fakta tidak akan muncul kecuali dalam keadaan
tertentu.[20]
Macam
penjelasan ini berbeda dengan yang pertama karena sekarang kita hendak mencari
bagaimana hubungan sesuatu dengan sesuatu diluar dirinya. Orang primitif
menganggap bahwa sesuatu itu adalah sempurna dirinya tanpa berhubungan dengan
sesuatu yang lain. Mereka tidak mengenal bahwa sesuatu itu merupakan komponen,
bagian, anakan dari suatu system yang lebih besar. Mereka tidak pernah melihat
dunia ini sebagai suatu keseluruhan. Bagi mereka, seseuatu itu merupakan
potongan-potongan wuud yang terlepas, yang keadaanya tidak berkaitan atau
berhubungan denagnyang lainya, dengan kata lain mereka memandang dunia ini
terdiri dari sesuatu yang terpisah-pisah, sesuatu yang berdiri sendiri yang
berhubungan antara satu dengan lainya hanya merupakan kebetulan.
3)
Menjelaskan
berdasarkan hubungan sebsb-akibat
Sejauh
ini kita telah memcarakan dua macam crara menerangkan , tetapi sejauh ini kita
masih mencari hubungan antara dua fakta dalam waktu yang bersamaan. Sedangkan
kita dapat juga menjumpai hubungan dua buah fakta atau atau lebih dalam waktu
yang berurutan, antara fakta-fakta yang secara tetap terjadi lebih dahulu dan
diikuti oleh fakta lainya pada waktu yang lebih kemudian.
Kita
menyadari bahwa tidak ada suatu peristiwa terjadi secara kebetulan. Ada suatu
susunan yang konsisten yang melahirkan adanya peristiwa-peristiwa itu didalam
perjalanan waktu. Kita telah lama menyadari bahwa bahwa apabila dalam suatu
kondisi tertentu yang melahirkan peristiwa yang terjadi kemudian adalah
merupakan suatu yang esensial yang kemudian kita sebut “sebab”. Sedangkan
peristiwa yang terjadi kemudian yang secara tetap muncul manakala kondisi
tertentu terlaksana kita sebut “akibat”. Cara menjelaskan berdasarkan bagaimana
suatu peristiwa itu terjadi dengan melihat kondisi yang menyebabkan lahirnya peristiwa itu adalah cara
menerangkan berdasarkan sebab-akibat.[21]
4)
Cara
menjelaskan berdasarkan fungsinya
Adalah
cara menjelaskan suatu fakta bagaimana sesuatu itu mmempunyai kedudukan
terhadap fakta atau peristiwa lain. Macam penjelasan ini berbeda dengan macam
sebelumnya karena di sini bukan bagaimana fakta lain mempunyai hubungan yang
pasti terhadap suatu fakta tertentu, melainkan bagaimana suatu fakta tertentu
itu memegang peranan bagi fakta lainya.
Cara
penjelasan ini kita gunakan misalnya bila kita hendak menerangkan tentang
benda-benda hidup dan fakta-fakta yang terkait denganya. Kita dapat menggunakan
macam penjelasan ini manakala kita ingin menerangkan hidung yang kita miliki
papa fungsinya, juga tentang fungsi dari lebah madu bagi bunga, tentang music
bagi jiwa dan raga manusia, tentang klorofil bagi tumbuhan, tentang
presiden bagi pemerintahan, tentang matahari bagi kehidupan, tentang jantung
bagi tubuh manusia.
C.
Penutup
Dari pembahasan, Dapat ditarik
kesimpulan
1.
Hubungan
kausalitas merupakan konsep penalaran berdasarkan adanya hubungan sebab akibat.
2.
Untuk
mendapatkan sebuah kesimpulan kejadian, bisa menggunakan metode penyimpulan
atau metode indukksi mill
3.
Kekeliruan
dalam menyimpulkan sebab akibat biasa terjadi pada ketika suatu kesimpulan selalu
didasarkan atas kejadian yang saling berurutan.
4.
Penjelasan
adalah sekelompok proposisi yang menerangkan suatu fakta secara logis
DAFTAR PUSTAKA
Sidharta, Arief Pengantar Ligika, Subuah Langkah-Langkah Pertama
Pengenalan Medan Talaah, Bandung; PT Refika Aditama, 2010, Cet. Ketiga.
Mundiri, logika, Jakarta,; PT Rajagrafindo Persada, 1994,
cet.1.
Joesoef Sou’yb, Pelajaran Logika, Medan; Intisari, 1966.
Irving M. Copi, Introduction To Logic, New York; Macmillan
Publishing, 1978.
[1]
Arief Sidharta, Pengantar Ligika, Subuah Langkah-Langkah Pertama Pengenalan
Medan Talaah, (Bandung; PT Refika Aditama, 2010), Cet. Ketiga, hal.81
[2] Ibid,
hal. 82
[3]
Mundiri, logika, (Jakarta,; PT Rajagrafindo Persada, 1994), cet.1,
hal.172
[4]
Mundiri, ibid, hal. 172
[5]
Mundiri, ibid, hal. 173
[6]
Joesoef sou’yb, Pelajaran Logika, (Medan; Intisari, 1966), hal.226
[7]
Mundiri, op.cit, hal. 174
[8] Ibid,
hal 176
[9] Ibid,
hal.178
[10]
Ibid, hal.180
[11]
Yoesoef sou’yb, op.cit, hal. 228
[12]
Arief shidarta, Op.Cit, hal91
[13]
Mundiri, Op.Cit, hal 181
[14]
Irving M. copi, Introduction To Logic, (New York, Macmillan Publishing,
1978), hal. 416
[15]
Mundiri, op.cit, 182
[16]
Irving M. Copi, op.cit. 461
[17] Ibid,
hal.188
[18] Ibid,
hal.189
[19] Ibid,
hal.190
[20] Ibid,
hal.192
Tidak ada komentar:
Posting Komentar